<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abudzacky's Weblog</title>
	<atom:link href="http://abudzacky.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abudzacky.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Oct 2008 04:07:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abudzacky.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/66ade9e15f1bc0f3da6487a3995eca41?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abudzacky's Weblog</title>
		<link>http://abudzacky.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>STRUKTUR ILMU TABLIGH</title>
		<link>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/18/struktur-ilmu-tabligh/</link>
		<comments>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/18/struktur-ilmu-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Oct 2008 03:50:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abudzacky</dc:creator>
				<category><![CDATA[DAKWAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abudzacky.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[

 
A. Pengantar
Dakwah sebagai sebuah realitas, eksistensinya tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Aktivitas dakwah pada hakikatnya sebagai proses penyelamatan umat manusia dari berbagai persoalan yang merugikan, karenanya kegiatan dakwah merupakan kerja dan karya besar manusia -baik secara individual maupun kelompok- yang dipersembahkan untuk Tuhan dan sesamanya dalam rangka menegakkan keadilan, meningkatkan kesejahteraan, menyuburkan persaudaraan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=31&subd=abudzacky&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><span style="color:black;"></span></strong></p>
<div class="Section1">
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="FI">A. Pengantar</span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><a href="http://abudzacky.files.wordpress.com/2008/10/poto-blog1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-37" title="poto-blog1" src="http://abudzacky.files.wordpress.com/2008/10/poto-blog1.jpg?w=154&#038;h=207" alt="" width="154" height="207" /></a><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Dakwah sebagai sebuah realitas, eksistensinya tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Aktivitas dakwah pada hakikatnya sebagai proses penyelamatan umat manusia dari berbagai persoalan yang merugikan, karenanya kegiatan dakwah merupakan kerja dan karya besar manusia -baik secara individual maupun kelompok- yang dipersembahkan untuk Tuhan dan sesamanya dalam rangka menegakkan keadilan, meningkatkan kesejahteraan, menyuburkan persaudaraan dan kebersamaan, serta mencapai kebahagiaan baik di dunia kini maupun di akhirat kelak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="FI">Bersumber pada al-Qur&#8217;an sebagai kitab dakwah, Sunnah Nabi sebagai penjelasnya, serta produk <em>ijtihad </em>para <em>waratsah al-anbiyâ</em>, dakwah dipahami sebagai kewajiban setiap muslim dalam upaya <em>transmisi, transformasi,</em> <em>difusi </em><span>dan </span><em>internalisasi</em> ajaran Islam kepada umat manusia.<span> </span>Proses kerja dan karya besar manusia (dakwah) ini dalam<span> </span>implementasinya melibatkan unsur subyek (<em>da&#8217;i</em>), pesan (<em>maudhû</em>), metode (<em>ushlûb</em>), media (<em>washîlah</em>), dan obyek (<em>mad&#8217;u</em>) bertujuan untuk mewujudkan kehidupan individu dan kelompok yang adil, sejahtera, persaduaraan, kebersamaan, selamat dan bahagia serta <span> </span>memperoleh ridha Allah SWT.</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="FI">Terkait dengan al-Qur’an sebagai kitab dakwah, dijelaskan oleh </span><span lang="IN">Abu al-A&#8217;la al-Mawdudi menerangkan bahwa: </span><strong><span dir="rtl" lang="AR-SA">القرآن كتاب دعوة ومنهج حركة</span></strong><span lang="AR-SA"> </span><span lang="IN">dalam <em>al-Mabâdi al-Asâsiyyah li Fahm al-Qurân, </em>dan Yusuf Musa, yang menjelaskan: &#8220;<span>Kendatipun diturunkan dalam kalangan bangsa Arab dan dengan Bahasa Arab, al-Quran merupakan kitab dakwah yang ditujukan kepada segenap umat manusia, termasuk bangsa Arab dan non-Arab serta seluruh umat lainnya”<em>. </em>Sedangkan dakwah sebagai proses </span></span><span lang="FI">internalisasi dalam dakwah adalah proses tahu-kenal dan amal ajaran Islam pada tingkat intraindividu<span> </span>muslim (<em>nafsiyyah</em>) berupa <em>dzikr al-Lâh</em>, <em>du&#8217;â</em>, <em>wiqâyah &#8216;al-nafs</em>, <em>tazkiiyyah al-nafs</em>, shalat, dan <em>shaum</em>. Proses internalisasi ini pada dasarnya sebagai proses penguatan <em>ilhâm taqwâ</em><span> </span>dan meminimaliasi <em>ilhâm fujûr</em> pada setiap pribadi muslim yang di dalam dirinya memiliki potensi <em>ilhâm fujûr</em> dan <em>ilhâm taqwâ</em>. Dengan demikian, dakwah merupakan proses peningkatan potensi <em>ilhâm taqwâ </em>dan mengurangi potensi <em>ilhâm fujûr</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="FI">Penggunaan istilah internalisasi di <em>istinbâth</em> dari isyarat ayat al-Quran, antara lain didasarkan QS. al-Muzamil [73]:1-8, yang menguraikan apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw sebelum melaksanakan dakwah kepada orang lain, juga didasarkan pada QS. al-Tahrîm [66]:6, Al-Syams [91]:7-9. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><em><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Artinya:</span></em></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><em><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi Balasan menurut apa yang kamu kerjakan. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: &#8220;Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8221; Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.</span></em></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Kemudian penafsiran Ibn Katsir ketika menafsirkan al-Qur’an surat Fushilat (41) ayat 33 yang berbunyi<span> </span></span><strong><span style="font-size:12pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">وقال إننى من المسلمين</span></strong><span style="font-size:12pt;" lang="FI"> , ia menjelaskan:</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:-.1pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:3pt .1pt 3pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="AR-SA">أى هو فى نفسه مهتد بما يقوله فنفعه لنفسه ولغيره لازم ومتعد وليس هو من الذين يأمرون بالمعروف ولايأتونه وينهون عن المنكر ويأتونه&#8230;</span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:3pt 7.85pt 3pt 0;" dir="rtl" align="right"><span style="font-size:12pt;" dir="ltr" lang="ES">Pemaknaan dakwah sebagai proses internalisasi juga di <em>istinbâth</em> dari isyarat Q.S. Hud (11): 23, dan al-Hajj (22):34, 55, yang artinya:</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:3pt 0;" dir="rtl" align="right"><em><span style="font-size:12pt;" dir="ltr" lang="ES">Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni syurga; mereka kekal di dalamnya.</span></em><span style="font-size:12pt;" dir="ltr" lang="ES">(QS. Hud [11]: 23).</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><em><span style="font-size:12pt;" lang="ES">Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). </span></em><span style="font-size:12pt;" lang="ES">(al-Hajj [22]:34).</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Di antara makna kata “<em>mukhbitîn</em>” dalam ayat 34 surat<span> </span>al-Hajj tersebut adalah orang yang berhati tenang dipenuhi keimanan, ia selalu berdzikir kepada Allah SWT, ia santun kepada Allah, khusyu dalam menjalankan ibadah <em>mahdhah</em>, dan ia selalu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan sesuai peruntukannya<strong>.<span style="color:red;"> </span></strong>Internalisasi juga bagian dari makna <em>irsyâd</em> atau <em>al-rusyd</em>, yaitu: </span><strong><span style="font-size:12pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">الاستقامة على طريق الحق</span></strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN"> , artinya “melaksanakan ajaran Islam sepenuh hati”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><span lang="IN"><span> </span>Sedangkan pemaknaan dakwah sebagai proses transmisi, karena dakwah merupakan proses memberitahu-kenalkan dan membimbing pengamalan ajaran Islam terhadap seorang individu, dua orang individu, tiga orang individu, dan kelompok kecil (<em>ta&#8217;lîm</em>, <em>taujîh</em>, <em>mau&#8217;izhah</em>, dan <em>nashîhah</em>) dan mensolusi problem psikologisnya (<em>istisyfâ</em>). Selain itu, transmisi juga berupa <em>ta&#8217;lîm jumhûr</em>, yaitu proses penyampaian ajaran Islam melalui bahasa lisan kepada kelompok besar dalam suasana tatap-muka dan satu arah, baik berupa <em>khithâbah dîniyyah</em> (khutbah jum&#8217;ah, idul fitri, Idul Adha, Istisqa, Gerhana matahari, Gerhana bulan, dan wukuf di Arafah), maupun <em>khithâbah ta&#8217;tsîriyyah</em> (ceramah dalam keagamaan baik dalam hari-hari beasar Islam, maupun dalam upacara syukuran, <em>siyâsah</em>, dan lain-lain). Proses transmisi dalam dakwah seperti itu disebut <em>tablîgh</em> (<em>da’wah bi ahsan al-qaul</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Transmisi di <em>istinbâth</em> dari bagian lain makna pelaku <em>irsyâd</em> atau <em>rusyd</em>, yaitu “<em>al-muhtadi</em>” artinya yang memberikan petunjuk dan bimbingan terhadap umat manusia dengan menjadikan dirinya sebagai <em>uswah hasanah.</em> Sedangkan bentuk dakwah berupa <em>tablîgh</em> didasarkan pada al-Quran yang mengungkapkan <em>al-balâgh al-mubîn</em> dan <em>balîgh</em>. Hal ini disarikan dari Abdullah Sahatah dalam tulisannya <em>al-Da’wah al-Islâmiyah wa al-I’lâm al-Dînî</em>, (1978) dan tulisan Muhammad Abd al-Aziz al-Khuli dalam <em>Ishlâh al-Wa’zh al-Dînî</em> (1969.) Kata </span><strong><span dir="rtl" lang="AR-SA">الإعلام</span></strong><span lang="AR-SA"> </span><em><span lang="IN">muradif</span></em><span lang="IN"> dengan kata </span><strong><span dir="rtl" lang="AR-SA">التبليغ</span></strong><strong><span lang="IN">,</span></strong><span lang="IN"><span> </span>yaitu penyiaran dan penyebarluasan ajaran Islam dengan mengunakan bahasa lisan yang disampaikan kepada kelompok besar atau publik (mustami).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><span lang="IN"><span> </span>Dakwah disebut juga sebagai proses difusi atau <em>i&#8217;lâm al-Islâm</em>, yaitu proses penyiaran dan penyebarluasan ajaran Islam, baik secara lisan maupun tulisan dengan cara menggunakan media (cetak dan atau elektronik) yang disampaikan kepada internal umat Islam atau kepada komunitas tertentu yang non-muslin (<em>futûhât</em>). Oleh sebab itu, difusi (<em>i’lâm</em>) merupakan bagian dari <em>tablîgh</em>, yaitu penyiaran dan penyebarluasan ajaran Islam melalui media elektronik dan media cetak. <em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN"><span> </span>Pemaknaan <em>i’lâm </em>ini disarikan dari Abd al-Lathîf Hamzah dalam tulisannya <em>al-I’lâm fi al-Shadr al-Islâm</em> (1970), dan Aminah al-Shâwi dan ‘Abd al-‘Azîz Syarf dalam tulisannya <em>Nazhariyah al-I’lâm fi al-Da’wah al-Islâmiyah</em>, serta dalam tulisan Abdullah Nâshih ‘Ulwân, <em>Hukm al-Islâm fî Wasâil al-I’lâm</em> (1986). Selain itu, difusi juga merupakan bagian dari makna kata <em>futûhât</em> sebagai merupakan bagian dari kegiatan <em>tablîgh</em> Islam, yaitu menyiarkan, menyebarluaskan, dan menghadirkan Islam kepada manusia non-Muslim di tempat tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><span lang="IN"><span> </span>Selain itu dakwah juga disebut sebagai transformasi, yaitu poses pengamalan ajaran Islam (<em>bi ahsan al-&#8217;amal</em>) berupa pelembagaan dan pengelolaan kelembagaan Islam. Transformasi ini disebut juga sebagai <em>tadbîr</em> (<em>ahsan &#8216;amal</em>), yaitu sebagai proses pengamalan ajaran berupa pemberdayaan (<em>taghyîr</em>,<em> tamkîn</em>), baik sumber daya insani (muslim), lingkungan hidup, dan ekonomi umat. Akan tetapi pada aspek lain, transformasi yang dimaksudkan disebut juga sebagai proses <em>tathwîr</em> atau <em>tamkîn</em> Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Pemaknaan dakwah sebagai proses transformasi di <em>istinbâth</em> dari makna <em>tadbîr</em> dan <em>tamkîn</em> dalam al-Quran. Kata </span><strong><span dir="rtl" lang="AR-SA">يدبر</span></strong><span lang="IN"><span> </span>(<em>tadbîr</em>)<em> </em>tersurat dalam QS. Yunus: 31, al-Ra’d:2, dan al-Sajdah: 5. Sedangkan kata <em>tamkîn</em> beerasalal dari kata </span><strong><span dir="rtl" lang="AR-SA">مكن</span></strong><span lang="IN"> sebagaimana tersurat dalam<span> </span>al-Quran surat al-A’raf [7]: 10 dan al-Quran surat al-Kahf [18]: 84. Pengertian <em>tadbîr</em> dan <em>tamkîn</em> diformulasikan sebagai bentuk transformasi, hal ini didasarkan dan mengacu pada penjelasan dari kata <em>yudabbiru</em> dan <em>makkana</em>. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Berdasarkan pada beberapa uraian di atas, baik terkait dengan pengertian dakwah secara etimologis maupun secara terminologis, serta hakikat dakwah Islam maka dapatlah kita dikategorikan beberapa ragam dakwah (Bentuk utama dakwah ini di <em>istinbâth</em> dari Q.S. Fushilat (41): 33 dan pendapat Jum’ah Amin ‘Abd a’-‘Azîz, bahwa:<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><strong><span dir="rtl" lang="AR-SA">فالداعى الى الله يحاول دعوة الناس بالقول والعمل الى الاسلام والى تطبيق منهجه واعتناق عقيدته وتنفيذ شريعته</span></strong><span lang="IN">) Bentuk dakwah dan fokus kegiatan dakwah Islamiyah. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Tabel 1. Bentuk dan Kegiatan Dakwah</span></p>
<table class="BodyText3Char" style="margin-left:6.8pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<thead>
<tr style="height:22pt;">
<td style="border:1pt solid windowtext;background:#cccccc none repeat scroll 0 0;width:68.8pt;height:22pt;padding:0 3.6pt;" width="92" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">Pendekatan Dakwah (Pohon)</span></strong></p>
</td>
<td style="background:#cccccc none repeat scroll 0 0;width:108pt;height:22pt;padding:0 3.6pt;" width="144" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">Bentuk Dakwah (Dahan)</span></strong></p>
</td>
<td style="background:#cccccc none repeat scroll 0 0;width:144pt;height:22pt;padding:0 3.6pt;" width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">Fokus Kegiatan Dakwah (Ranting)</span></strong></p>
</td>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:68.8pt;padding:0 3.6pt;" rowspan="2" width="92" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="IN">Da&#8217;wah</span></em><span lang="IN"> <em>Bi Ahsan al-Qawl</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
</td>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:108pt;padding:0;" width="144" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.5pt;text-align:justify;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="ES"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="IN">Ir</span></em><em><span lang="ES">syâd </span></em><span lang="ES">Islam (inter-nalisasi dan transmisi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.5pt;text-indent:-11pt;"><span lang="ES"> </span></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:144pt;padding:0 3.6pt;" width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span lang="ES"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span lang="ES">Ibda bi nafs: dzikr al-lâh, du&#8217;â, wiqâyah &#8216;al-nafs, tazkiiyyah al-nafs,   shalat, dan shaum.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span lang="ES"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span lang="ES">Ta&#8217;lîm, taujîh, mau&#8217;izhah, dan nashîhah.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>3.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Istisyfâ.</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:108pt;padding:0;" width="144" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.5pt;text-align:justify;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="ES"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="ES">Tablîgh </span></em><span lang="ES">Islam (transmisi dan difusi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.5pt;text-indent:-11pt;"><span lang="ES"> </span></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:144pt;padding:0 3.6pt;" width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Khithâbah   dîniyyah.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Khithâbah   ta&#8217;tsîriyyah.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>3.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Kitâbah</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>4.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Futûhât</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>5.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Seni   Islam</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:68.8pt;padding:0 3.6pt;" rowspan="2" width="92" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="ES"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="ES">Da&#8217;wah</span></em><span lang="ES"> <em>Bi Ahsan   al-&#8217;Amal</em></span></p>
</td>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:108pt;padding:0 3.6pt;" width="144" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.75pt;text-indent:-10.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="ES"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="ES">Tadbîr </span></em><span lang="ES">Islam (transformasi   = pelembagaan dan pengelolaan kelembagaan Islam)</span></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:144pt;padding:0 3.6pt;" width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Pengelolaan   majelis ta&#8217;lim</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Pengelolaan   masjid</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>3.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Pengelolaan   organisasi kemasyarakatan</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>4.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Pengelolaan   organisasi politik Islam</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>5.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Pengelolaan   HUZ</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>6.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Pengelolaan   ZIS</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>7.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>LSM   Dakwah</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:108pt;padding:0 3.6pt;" width="144" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-12.45pt;margin:6pt 0 .0001pt 12.45pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><em>Tathwîr</em>/<em>Tamkîn </em>Islam (transformasi   =pemberdayaan)</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:144pt;padding:0 3.6pt;" width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-11.05pt;margin:6pt 0 .0001pt 13.05pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Pemberdayaan   SDI</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.9pt;text-indent:-11pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Pemberdayaan   Lingkungan Hidup</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-11.05pt;margin:0 0 6pt 13.05pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>3.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Pemberdayaan   Ekonomi Umat</em></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 6pt 3pt 0;">Sumber: Syukriadi Sambas, tahun 2004.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><span> </span>Kemudian hakikat dakwah sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, jika dilihat dari proses interaksi antara <em>da&#8217;i</em> dengan <em>mad&#8217;u (</em><span lang="IN">Kategorisasi <em>mad’u </em>dan macamnya ini di <em>istinbâth</em> dari “kata-kata” dalam al-Quran, yaitu <em>nafsiyah</em> (Q.S. al-Baqarah: 48, 233), <em>fardiyah</em> (Q.S. Maryam: 80, 95), <em>fi’ah qalîlah</em> (Q.S. al-Baqarah: 249), <em>fi’ah katsîrah</em> (Q.S. al-Baqarah: 249), <em>jamâ’ah</em>/<em>hizbiyyah</em> (Q.S. al-Mujâdalah: 29), <em>ummah</em> (Q.S. Yunus: 47), dan <em>syu’ûbiyah </em>dan <em>qabâiliyah</em> (Q.S. al-Hujurat: 13),</span><em><span lang="IN"> </span></em>secara kuantitatif membentuk &#8220;konteks dakwah Islam&#8221; dan dapat disebut pula &#8220;bidang atau level dakwah Islam&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="background:#d9d9d9 none repeat scroll 0 0;text-align:justify;margin:3pt 0;"><span lang="DE">Tabel 2.2: Kategori Konteks Dakwah Islam</span></p>
<table class="BodyText3Char" style="width:316.45pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="422">
<thead>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 0;width:61.45pt;padding:0 1.45pt;" rowspan="2" width="82" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center"><strong>Kategori Konteks</strong></p>
</td>
<td style="background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 0;width:146.45pt;padding:0 1.45pt;" colspan="2" width="195" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center"><strong>Interkasi</strong></p>
</td>
<td style="background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 0;width:108.55pt;padding:0 1.45pt;" rowspan="2" width="145" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center"><strong><span lang="DE">Kategori Macam Inti Bentuk Dakwah</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 0;width:52.8pt;padding:0 1.45pt;" width="70" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center"><strong><em>Da&#8217;i</em></strong></p>
</td>
<td style="background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 0;width:93.65pt;padding:0 1.45pt;" width="125" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center"><strong><em>Mad&#8217;u</em></strong></p>
</td>
</tr>
</thead>
<tbody>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:61.45pt;padding:0 1.45pt;" width="82" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-9pt;margin:3pt 0 3pt 9pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Da&#8217;wah   nafsiya</em></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:52.8pt;padding:0 1.45pt;" width="70" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Diri sendiri</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:93.65pt;padding:0 1.45pt;" width="125" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Diri sendiri</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:108.55pt;padding:0 1.45pt;" width="145" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:3pt 0;"><em>Irsyâd</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:61.45pt;padding:0 1.45pt;" width="82" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-9pt;margin:3pt 0 3pt 9pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Da&#8217;wah Fardiyah</em></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:52.8pt;padding:0 1.45pt;" width="70" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Seorang</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:93.65pt;padding:0 1.45pt;" width="125" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center"><span lang="DE">Seorang, dua orang, dan tiga orang</span></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:108.55pt;padding:0 1.45pt;" width="145" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:3pt 0;"><em>Irsyâd, Tadbîr, Tamkîn/ Tathwîr</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:61.45pt;padding:0 1.45pt;" width="82" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-9pt;margin:3pt 0 3pt 9pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>3.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Da&#8217;wah Fi&#8217;ah Qalîlah</em></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:52.8pt;padding:0 1.45pt;" width="70" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Seorang</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:93.65pt;padding:0 1.45pt;" width="125" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Kelompok kecil</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:108.55pt;padding:0 1.45pt;" width="145" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:3pt 0;"><em>Irsyâd, Tadbîr, Tamkîn/ Tathwîr</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:61.45pt;padding:0 1.45pt;" width="82" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-9pt;margin:3pt 0 3pt 9pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>4.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Da&#8217;wah Fi&#8217;ah Katsîrah</em></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:52.8pt;padding:0 1.45pt;" width="70" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Seorang</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:93.65pt;padding:0 1.45pt;" width="125" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Kelompok besar</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:108.55pt;padding:0 1.45pt;" width="145" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:3pt 0;"><em>Tablîgh</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:61.45pt;padding:0 1.45pt;" width="82" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-9pt;margin:3pt 0 3pt 9pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>5.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Da&#8217;wah Jamâ&#8217;ah </em>atau <em>Hizbiyyah</em></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:52.8pt;padding:0 1.45pt;" width="70" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Seorang</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Kelompok</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:93.65pt;padding:0 1.45pt;" width="125" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Kelompok/jama&#8217;ah   organisasi Islam</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:108.55pt;padding:0 1.45pt;" width="145" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:3pt 0;"><em>Irsyâd, Tablîgh, Tadbîr, dan Tamkîn/Tathwîr</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:61.45pt;padding:0 1.45pt;" width="82" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-9pt;margin:3pt 0 3pt 9pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>6.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Da&#8217;wah Ummah</em></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:52.8pt;padding:0 1.45pt;" width="70" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Seorang</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:93.65pt;padding:0 1.45pt;" width="125" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Khalayak, publik</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:108.55pt;padding:0 1.45pt;" width="145" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:3pt 0;"><em>Tablîgh</em></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#e6e6e6 none repeat scroll 0 0;width:61.45pt;padding:0 1.45pt;" width="82" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-9pt;margin:3pt 0 3pt 9pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span>7.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em><!--[endif]--><em>Da&#8217;wah Syu&#8217;ûbiyyah-Qabâiliyyah</em></p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:52.8pt;padding:0 1.45pt;" width="70" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Seorang</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">kelompok</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:93.65pt;padding:0 1.45pt;" width="125" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center">Sama dengan nomor 2,   3, 4, 5, dan 6</p>
</td>
<td style="background:#f3f3f3 none repeat scroll 0 0;width:108.55pt;padding:0 1.45pt;" width="145" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:3pt 0;">Jika <em>da&#8217;i </em>dan <em>mad&#8217;u</em>nya berbeda budaya, <em>Irsyâd,   Tadbîr, Tamkîn/Tathwîr</em></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;">Sumber Syukriadi Sambas, tahun 2004.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><span> </span>Bertolak dari beberapa penjelasan secara obyektif proporsional, maka k<span>ategori bentuk dakwah</span> terdiri atas: <em>irsyâd</em>, <em>tablîgh</em>, <em>tadbîr</em>, dan <em>tamkîn/tathwîr.</em> Lebih rinci macam-macam bentuk dakwah adalah sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:3pt 0 3pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><em>I<span>rsyâd</span></em>, didalamnya berisikan <em>ibtidâ bi al-nafs</em>, <em>ta&#8217;lîm</em>, <em>tawjîh</em>, <em>mau&#8217;izhah</em>, <em>nashîhah</em>, dan <em>istisyfâ</em>, kemudian disebut pula sebagai Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:3pt 0 3pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><em>Tablîgh</em> Islam, didalamnya berisikan <em>khithâbah dîniyyah</em>, <em>khithâbah ta&#8217;tsîriyyah</em>, <em>kitâbah</em>, seni Islam, dan <em>futûhât</em>, disebut pula sebagai Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:3pt 0 3pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><em>T<span>adbîr </span></em>Islam, didalamanya berisikan pelembagaan dan pengelolaan kelembagaan Islam, yaitu majelis ta&#8217;lim, ta&#8217;mir masjid, organisasi kemasyarakatan Islam, organisasi siyasah Islami, wisata religius Islam (haji, umrah, dan ziarah), dan sumber dana Islam berupa ZIS, disebut pula sebagai ilmu Manajemen Dakwah (MD).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:3pt 0 3pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><em>T<span>amkîn/tathwîr</span></em> Islam, didalamnya berisikan pemberdayaan SDI (Sumber Daya Insani), lingkungan hidup, dan ekonomi umat, disebut pula sebagai ilmu Pengembangan Masyarakat Islam (PMI).</p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:3pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:3pt 0;"><strong><span style="color:black;">B. Hakikat Tabligh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Berdasarkan penjelasan sebelumnya, diketahui bahwa bentuk dakwah terbagi pada empat, yaitu: (1) <em>tabligh Islam</em>, sebagai upaya penerangan dan penyebaran pesan (ajaran) Islam; (2) <em>irsyad Islam, </em><span> </span>sebagai upaya bimbingan dan penyuluhan Islam; (3) <em>tadbir Islam</em>, sebagai upaya pemberdayaan ummat dalam menjalankan ajaran Islam melalui lembaga-lembaga dakwah; dan (4) <em>tathwir Islam, </em>sebagai upaya pemberdayaan kehidupan dan ekonomi keummatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><span lang="IN"><span> </span>Kemudian berkenaan dengan proses dakwah Islam, jika dilihat dari segi konteks atau levelnya (<em>thabaqat</em>), merupakan proses interaksi antara <em>da’i</em> dengan <em>mad’u</em> baik secara kuantitatif maupun kualitatif, maka prosesnya terbagi pada beberapa macam konteks, yaitu: pertama,<span> </span><em>dakwah nafsiyah</em>, yaitu proses interaksi antara <em>da’i</em> dengan diri sendiri sebagai dan <em>mad’u-</em>nya; kedua, <em>dakwah fardiyah, </em><span> </span>yaitu proses dakwah seorang <em>da’i</em> terhadap seorang <em>mad’u</em> dalam suasana dialogis dan kontak langsung; ketiga, <em>dakwah fi’ah, </em><span> </span>yaitu proses dakwah seorang <em>da’i</em> terhadap sekelompok <em>mad’u</em> secara tatap muka, dan dialogis yang berlangsung dalam bentuk kelompok kecil, dan kelompok-kelompok <em>mad’u</em> yang sudah terorganisir, misalnya majelis taklim, madrasah dan ma’had. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Keempat, <em>dakwah hizbiyah </em><span>atau</span><em> jam’iyah, </em><span>yaitu proses dakwah yang dilakukan oleh </span><em>da’i</em> yang mengidentifikasikan dirinya dengan atribut suatu lembaga atau organisasi dakwah tertentu, kemudian mendakwahi anggotanya atau orang lain di luar anggota suatu organisasi tersebut; kelima, <em>dakwah ummah, </em><span> </span>seorang <em>da’i</em> mendakwahi orang banyak melalui media cetak atau elektronik dalam suasana monologis dan tidak bertatap muka;<span> </span>dan keenam, <em>dakwah syu’ubiyah, </em>seorang <em>da’i</em> yang beridentitas etnis dan budaya tertentu mendakwahi <em>mad’u</em> yang beridentitas etnis dan budaya yang berbeda dengan <span>dirinya</span>. Kemudian dari beberapa konteks ini jika dilihat dari<span> </span>unsur pesan dakwah, metode, media, dan tujuan yang terlibat dalam prosesnya maka menjadi berbeda sesuai dengan konteksnya, karena setiap konteks dakwah akan menyebabkan terjadinya perbedaan dalam prosesnya. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Secara substantif konteks-konteks dakwah seperti itu sudah dikaji dan diamalkan di beberapa lembaga pendidikan pesantren, yaitu pesantren yang menjadikan beberapa kitab tentang dakwah Islam sebagai bahan ajarnya. Kitab-kitab itu, antara lain, meliputi: kitab <em>al-Da&#8217;wah al-Tâmmah</em>, <em>Nashâih al-&#8217;Ibâd</em>, <em>Irsyâd al-&#8217;Ibâd</em>, <em>al-Mursyid al-Amîn</em>, <em>al-Nashâih al-Dîniyyah</em>, <em>Mau&#8217;izhah al-Mu&#8217;minîn</em>, tafsir al-Qur&#8217;an yang di dalamnya terdapat penafsiran tentang ayat-ayat mengenai dakwah Islam, dan kitab <em>turâts</em> lainnya. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:21.3pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;">Kemudian untuk memposisikan <em>tabligh</em> (komunikasi dan penyiaran Islam) dan sistem dakwah, dapat dipahami dari makna <em>tabligh</em> itu sendiri. Kata <em>tabligh</em> berasal dari akar kata<span> </span></span><strong><span style="color:black;">بَلَّغ – يُبَلِّغُ &#8211; تَبْلِيْغًا</span></strong><span style="color:black;"> (<em>ballagha, yuballlighu, tablighan), </em>berarti menyampaikan</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="color:black;"> (</span></span><span style="color:black;">(</span><span>Lihat Ahmad Warson Munawir, <em>Al-Munawwir Kamus Besar Arab-Indonesia</em>, (Yogyakarta: Ponpes Al-Munawir, 1984), hlm. 115).</span><span style="color:black;">.<span> </span>Tabligh adalah kata kerja transitif, yang berarti menyampaikan, atau melaporkan. Sedangkan menurut Ibrahim Imam dalam <em>al-Ushul al-‘Ilan al-Islamy,</em> dijelaskan bahwa <em>tabligh</em> adalah :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-1.15pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:3pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="color:black;">تزويد الناس بالأخبار الصحيحة والمعلومات السليمة والحقائق السابتة التي تساعدهم على تكوين راي صائب فى واقعة من الوقائع أو مشكلة من المشكلات</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:21.3pt;margin:3pt 0;"><em><span style="color:black;">Memberikan informasi yang benar, pengetahuan yang faktual dan hakikat pasti yang bisa menolong atau membantu manusia untuk membentuk pendapat yang tepat dalam suatu kejadian atau dari berbagai kesulitan</span></em><span class="MsoFootnoteReference"><span style="color:black;"> </span></span><span style="color:black;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:21.3pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;">Sedangkan dalam kontek ajaran Islam, kata <em>tabligh </em><span> </span>merupakan proses penyampaian dan pemberitaan tentang ajaran Islam kepada umat manusia. Sedangakan ilmu yang mempelajari tentang <em>tabligh</em> disebut <em>ilmu tabligh.</em>, yaitu:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-1.15pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:3pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="color:black;">علم التبليغ:<span> </span>علم يبحث عن كيفية التبليغ الإسلامية بستى الطرق العلمية من الإستنباط والإقتباس والإستقراء ليكون الحق قائما والقسط</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:3pt 0;"><em><span style="color:black;"><span> </span>Ilmu tabligh adalah ilmu yang membahas tentang tata cara<span> </span>melakukan tabligh al-Islamiyah dengan metoda ilmiah dengan pendekatan istiqra, istinbath, iqtibas dan istiqra demi tegaknya kebenaran dan keadilan. </span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:3pt 0;"><span>(Lihat Ahmad Warson Munawir, <em>Al-Munawwir Kamus Besar Arab-Indonesia</em>, (Yogyakarta: Ponpes Al-Munawir, 1984), hlm. 115)<em></em></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;">Dalam konsep Islam, <em>tabligh</em> merupakan salah satu perintah yang dibebankan kepada para utusan-Nya. Bahkan di antara kesempurnaan karakteristik Muhammad saw adalah <em>shidadiq</em>, <em>amanah</em>, <em>fathonah</em>, dan <em>tabligh</em>. Sifat <em>tabligh</em> yang dimiliki Muhammad saw. dalam pandangan ulama as-‘Ariyah merupakan sifat wajib yang harus ada pada Rasulullah, karena rasulullah saw. sebagai penerima wahyu dari Allah Swt. yang harus disampaikan kembali<span> </span>kepada umatnya. Dengan demikian, dalam pandangan as-‘Ariyah, perintah <em>tabligh</em> merupakan perintah yang langsung dari Allah, dan merupakan perintah kedua setelah Muhammad saw. menerima wahyu dari Allah Swt. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.25pt;margin:3pt 0;">Dari segi sifatnya, perintah <em>tabligh</em> tidak bersifat insidental melainkan bersifat <em>continue</em> yakni sejak Muhammad saw. diangkat sebagai utusan Allah sampai menjelang kematian beliau.<span> </span>Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Maidah<span> </span>[5]: 67. <span>Firman Allah pada ayat itu merupakan perintah Allah kepada Rasulullah agar melaksanakan tabligh, yang sekaligus merupakan perintah kepada umatnya. Berkaitan dengan kewajiban tabligh ini, </span>terdapat <span>beberapa hadits Rasulullah saw, antara lain:<strong></strong></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:center;text-indent:21.25pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:3pt 17.85pt 3pt 0;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;">بلّغواعنى ولو آية</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:center;margin:3pt 0;" align="center"><em><span style="font-size:12pt;color:black;">Sampaikanlah apa-apa dari aku, walaupun hanya satu ayat</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:3pt 18pt 3pt 0;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;">ليبلّغوا شهدوا منكم الغائب</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:18pt;margin:3pt 0;"><em><span style="color:black;"><span> </span>Agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir’</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><em>Tabligh</em> jika dilihat dari aspek materinya (<em>mawdhu <span>tabligh</span></em>), maka pesan tabligh yang harus disampaikan adalah <em>al-Risalah,<span> </span></em>seperti<em> </em>terdapat dalam beberapa ayat<span> </span>al-Qur’an di antaranya: <span>QS. Al-‘Araf [7]: 62; </span>Al-‘Araf [7]: 68; <span style="color:black;">Al’Araf [7]: 93; Al-Ahqaf [46]: 23. Sedangan jika dilihat dari aspek metodenya (<em>ushlub</em> <em>tabligh</em>),<span> </span>tabligh memiliki beberapa metode utama yaitu: pertama, <em>khithabah</em> yaitu penyampaian dan penyebarluasan ajaran melalui bahasa lisan; kedua, <em>khitabah </em>yaitu<em> </em>penyampaian dan penyebarluasan ajaran melalui bahasa tulisan; dan ketiga </span><em><span lang="IN">i&#8217;lâm</span></em><span lang="IN">, yaitu proses penyiaran dan penyebarluasan ajaran Islam, baik secara lisan maupun tulisan dengan cara menggunakan media bail cetak maupun elektronik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><em>Khithabah, </em>sebagaimana dijelaskan di awal<em> </em>disebutkan sebagai proses <span lang="IN">transmisi berupa <em>ta&#8217;lîm jumhûr</em>, yaitu proses penyampaian ajaran Islam melalui bahasa lisan (<em>bi ahsan al-qaul</em>) kepada mustami dalam kelompok besar. K</span><span lang="IN">ata<span> </span><em>khithabah<span> </span></em>berasal dari akar kata: </span><strong><span dir="rtl" lang="AR-SA">خطب- يخطب-خطبة</span></strong><span lang="IN"> (<em>khathaba, yakhthubu, khuthbatan<span> </span></em>atau <em>khithãbatan</em>)<em>,</em> berarti: berkhuthbah, berpidato, meminang, melamarkan, bercakap-cakap, mengirim surat (</span>Ahmad Munawir Warson, Al-Munawwir Kamus Besar Arab-Indonesia, Yogyakarta: Ponpes Al-Munawwir, 1984, hlm. 376)<span lang="IN">. Poerwadarminta mengartikan <em>khithabah</em> dalam bahasa Indoensia sinomim dengan kata pidato, terutama tentang menguraikan sesuatu ajaran Islam (</span><span lang="SV">W.J.S. Poerwadarminta, <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia, </em>Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 985-504)</span><span lang="IN"><span> </span>Dan secara bahasa <em>khithabah</em> juga terkadang diartikan sebagai<span> </span>pengajaran, pembicaraan dan nasihat (</span><span lang="SV">Fuad Arfam, <em>Munjid al-Thulab, </em>jilid III, Beirut: Dar al-Masyriq, 1956, hlm.169)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Khithabah secara terminilogis, menurut Harun Nasution adalah ceramah atau pidato yang mengandung penjelasan-penjelasan tentang sesuatu atau beberapa masalah yang disampaiakan seseorang di hadapan sekelompok orang atau khalayak. Sedangkan menurut Syeikh al-Jurjani khithabah merupakan suatu upaya menimbulkan rasa ingin tahu terhadap orang lain tentang suatu perkara yang berguna baginya, baik mengenai urusan dunia maupun akhirat (</span><span lang="SV">Syeikh al-Jurjani, <em>al-Ta’rifat, </em>(Mesir: Musthafa al-Bab al-Halaby, tt.), hlm. 89)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Dalam implementasinya, <em>khithabah</em> merupakan pesan yang disampaikan oleh seorang khathib yang biasanya disampaikan di masjid ketika ibadah<span> </span>Jum’at, peringatan hari-hari raya atau pada kesempatan lain (</span><span lang="SV">John L. Pisto, <em><span> </span>Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern, </em>Jilid III, (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 223)</span><span lang="IN"><span> </span>Menurut Bernard Lewis di lingkungan orang Arab pra Islam, khathib sering diidentikan dengan <em>sya’ir,</em> atau penyair sebab antara keduanya memiliki peran dan posisi<span> </span>terkemuka dalam masyarakat suku Arab pada waktu itu, dalam bahasa yang sempurna biasanya mereka memuji-muji keunggulan suku, seraya mengungkap kelemahan musuh mereka (</span><span>Bernan Lewis, </span><em><span lang="IN">The Arabs in History</span></em><span lang="IN">, (London, 1996), hlm. 135)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><span lang="IN"><span> </span>Dalam al-Qur’an, term <em>khithabah</em> disebutkan 9 kali dengan derivasinya sebanyak 12 kali penyebutan, dan digunakan untuk menyebut aktivitas berbicara yang dilakukan oleh manusia secara monologis<span> </span>dan dialogis. Tabel berikut menjelaskan penyebutan term <em>khithabah</em> yang terdapat dalam Al-Qur’an:</span></p>
<div>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;margin-left:5.4pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">No</span></strong></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">Bentuk </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">Istilah</span></strong><strong></strong></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">Ayat </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">Al-Qur’an</span></strong></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">Penggunaan Istilah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">Dalam Al-Qur’an</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="a" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">1</span></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">خا طبهم</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">Al-Furqon (25): 63</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">واذا   خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="a" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">2</span></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">تخاطبنى</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">Hud (11) : 37</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">Al-Mu’minun (23): 27</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">ولاتخاطبنى   فى الّذين ظلموا</span></p>
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">ولاتخاطبنى   فى الّذين ظلموا إنّهم مغرقون</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="a" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">3</span></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">خطبك</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">Thaha (20) : 45</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">قال   فما خطبك ياسامري</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="a" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">4</span></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">خطبكم</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:-5.4pt;"><span lang="IN"><span> </span>Al-Hijr (15)   : 57</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:-5.4pt;"><span lang="IN"><span> </span>Adz-Dzariyat   (51): 31</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">قال   فما خطبكم أيها المرسلون</span></p>
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">قال   فما خطبكم أيها المرسلون</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="a" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">5</span></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">خطبكما</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">Al-Qashas (28) : 23</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">قال   ما خطبكما قالتا لانسقي حتّى يصدر الرّعاء</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="a" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">6</span></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">خطبكنّ</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">Yusuf (12) : 51</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">قال   ما خطبكنّ اذ رأودتنّ يوسف عن نفسه</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="a" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">7</span></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">الخطاب</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">Shad (38) : 20</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">Shad (38) : 23</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">وشددنا   ملكه واتيناه الحكمة وفصل الخطاب</span></p>
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">فقال   اكفلنيها وعزنى فى الخطاب</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="a" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">8</span></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">حطابا</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">An-Naba (78) : 37</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">ربّ   السموات والأرض وما بينهما الرتحمن لايملكون منه خطابا</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="a" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">9</span></p>
</td>
<td style="width:54pt;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">خطبة</span></p>
</td>
<td style="width:90pt;padding:0 5.4pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN">Al-Baqoroh (2): 235</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="a" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">ولاجناح   عليكم فيما عرضتم به من خطبة النساء</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Berdasarkan uraian dan keterangan dari beberapa ayat sebagaimana tabel di atas, diketahui bahwa proses <em>khithabah</em> (<em>khithabah</em> <em>diniyah </em>maupun<em> khithabah ta’tsiriyah</em>)<em> </em>terdapat beberapa kompenen yang terlibat didalamnya dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya kerana saling menunjang. Unsur<span> </span><em>khithabah </em>yang dimaksud adalah </span><span lang="IN">unsur subyek (<em>khathib</em>), pesan (<em>maudhû</em>), metode (<em>ushlûb</em>), media (<em>washîlah</em>), dan obyek (<em>makhthub</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Dalam pelaksanaannya, proses <em>khitabah</em> dapat dilakukan dalam dua bentuk, yaitu: <em>pertama</em>, <em>khitabah</em> <em>diniyah</em> merupakan proses <em>tabligh</em> yang terikat langsung dengan pelaksanaan ibadah <em>mahdhah, </em><span>s</span>eperti: Khuthbah ‘Idul Adha, Khuthbah ‘Idul Fitri, Khuthbah Nikah, Khuthbah Jum’at, Khuthbah Istisqa, Khuthbah Gerhana Bulan, dan Khuthbah Gerhana Matahari. <em>Kedua, khithâbah ta&#8217;tsîriyyah</em> yaitu proses <em>tabligh</em> yang tidak terikat dengan ibadah <em>mahdhah, </em>seperti: khitabah pada peringatan maulid Nabi,<span> </span>Isra Mi’raj, peringatan tahun baru 1 Muharram, Nuzulul Qur’an, peringatan hari kemerdekaan, tasyakur pernikahan, khitanan, dan lain sebagainya.<em>Kedua, </em><span>khithabah yang </span>tidak terikat secara langsung dengan pelaksanaan ibadah <em>mahdhah,</em> disebut <em>khithabah ta’tsiriyah</em>, seperti: khitabah pada peringatan maulid Nabi,<span> </span>Isra Mi’raj, peringatan tahun baru 1 Muharram, Nuzulul Qur’an, peringatan hari kemerdekaan, tasyakur pernikahan, khitanan, dan lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Kedua, <em>khitabah</em> <span style="color:black;">yaitu<em> </em>penyampaian dan penyebarluasan ajaran melalui bahasa tulisan. Pada implementasinya proses tabligh melalui tulisan dapat terbagi pada dua kategori, yaitu: pertama<span> </span></span><em>khitabah</em><span style="color:black;"> melalui media cetak, seperti: buku, novel, surat kabar, majalah, tabloid, dan jurnal; kedua </span><em>khitabah</em><span style="color:black;"> melalui elektronik, seperti: blog, website, mailing list, sms, dan sebagainya. Tabligh melalui <em>khitabah, </em>dipandang<em> </em>efektif pada saat ini, sebab perkembangan teknologi informasi menjadi satu model peradaban tersendiri yang membawa hampir seluruh umat manusia terpesona olehnya. Perkembangan teknologi informasi menjadi peluang sekaligus tantangan bagi para mubaligh yang memiliki tugas dan misi suci untuk menyebarkanluaskan nilai-nilai yang mengajak umat manusia ke arah persaudaraan, keadilan, kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan di dunia kini dan di akhierat kelak.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Ketiga, <em>i&#8217;lâm </em>(difusi) yaitu proses penyebarluasan ajaran Islam melalui penyiaran, baik melalui media radio atau televisi yang disampaikan kepada internal umat Islam atau kepada komunitas tertentu yang non-muslin (<em>futûhât </em>). Oleh sebab itu, <em>i’lâm</em> (difusi) merupakan bagian dari <em>tablîgh</em>. Pemaknaan <em>i’lâm </em>ini disarikan dari Abd al-Lathîf Hamzah dalam tulisannya <em>al-I’lâm fi al-Shadr al-Islâm</em> (1970), dan Aminah al-Shâwi dan ‘Abd al-‘Azîz Syarf dalam tulisannya <em>Nazhariyah al-I’lâm fi al-Da’wah al-Islâmiyah</em>, serta dalam tulisan Abdullah Nâshih ‘Ulwân, <em>Hukm al-Islâm fî Wasâil al-I’lâm</em> (1986). Selain itu, difusi juga merupakan bagian dari makna kata <em>futûhât</em> sebagai merupakan bagian dari kegiatan <em>tablîgh</em> Islam, yaitu menyiarkan, menyebarluaskan, dan menghadirkan Islam kepada manusia non-Muslim di tempat tertentu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span lang="IN">Berdasarkan uraian di atas, struktur keilmuan tabligh dapat digambarkan sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:3pt 0;"><span style="color:black;">Gambar 1: Struktur Keilmuan Tabligh</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><!--[if gte vml 1]&gt;--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center"><strong>TABLIGH</strong></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center"><strong>KHITABAH</strong></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center"><strong>KITABAH</strong></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center"><strong>I’LAM</strong></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center">Ta’tsiriyah</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center">Diniyah</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center">Cetak</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center">Elektronik</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center">Film</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center">Radio</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center">Televisi</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[if !vml]--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="35" height="14"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td><img src="/DOCUME~1/User/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" alt="" width="522" height="140" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[endif]--><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><a name="BM2"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3pt 0;"><span><strong><span style="color:black;">C. Prinsip Khithabah Menurut al-Qur’an</span></strong></span><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.6pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;">Prinsip khithabah yang dimaksud adalah prinsip-prinsip penyampaian pesan dalam khithabah atau komunikasi lisan (<em>khithabah</em>). Istilah komunikasi lisan atau <em>khithabah</em> dalam al-Qur’an sebagian besar diungkapkan dengan kata</span><strong><span style="color:black;">قال -ُنطق ـِ</span></strong><strong><span style="color:black;">,</span></strong><span style="color:black;"> dan </span><strong><span style="color:black;">كلم ـِ</span></strong><span style="color:black;"><span> </span>atau </span><strong><span style="color:black;">تكلم ـَ</span></strong><span style="color:black;">,<span> </span>kata<span> </span></span><strong><span style="color:black;">قال</span></strong><span style="color:black;"><span> </span>dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak<span> </span>1722 kali, yang terdapat pada 141 ayat dalam 57 surat (</span>Majma’ al-Lugah al-‘Arabiyah, <em>Mu’jam al-Alfazh al-Qur`an al-Karim,</em> (al-Haiah al-Misyriyyah li al-Ta`lif wa al-Nasyr, 1975), hal. 426-444)<span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.6pt;margin:3pt 0;"><span style="color:black;">Kata<span> </span></span><span style="color:black;">نطق</span><span style="color:black;"><span> </span>dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak<span> </span>12<span> </span>kali yang terdapat<span> </span>pada 16 ayat dalam 11 surat (</span>Majma’ al-Lugah al-‘Arabiyah, <em>Mu’jam al-Alfazh al-Qur`an al-Karim,</em> (al-Haiah al-Misyriyyah li al-Ta`lif wa al-Nasyr, 1975), hal. 726-727) <span style="color:black;">dan Kata </span><strong><span style="color:black;">كلم ـِ</span></strong><span style="color:black;"><span> </span>atau </span><strong><span style="color:black;">تكلم</span></strong><span style="color:black;"><span> </span>dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak<span> </span>75<span> </span>kali , yang terdapat pada 72 ayat dalam 35 surat (</span>Majma’ al-Lugah al-‘Arabiyah, <em>Mu’jam al-Alfazh al-Qur`an al-Karim,</em> (al-Haiah al-Misyriyyah li al-Ta`lif wa al-Nasyr, 1975). <span style="color:black;"><span> </span><span lang="IN">Di antara prinsip khithabah diajarkan Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra` ayat 53, yang artinya:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:-1.15pt;line-height:normal;margin:3pt 0;"><em><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: &#8220;Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:normal;margin:3pt 0;"><span style="font-size:12pt;color:black;">Menurut Ibn Katsir, dalam ayat tersebut Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar berkata<span> </span>dengan perkataan yang baik (ahsan) atau menggunakan kata-kata terbaik ketika berkomunikasi atau ketika menyampaikan, menganjurkan, mengajak ajaran Islam kepada sesama. Jika<span> </span>mereka tidak berbuat demikian maka di antara mereka akan terkena hasutan syetan<span> </span>yang akan berdampak pada perbuatan mereka, sehingga akan terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;"> (</span></span><span style="font-size:12pt;">Ismail bin Amr bin Katsir<span> </span>al-Damasyqi Abu al-Fidâ, <em><span> </span>Tafsir Ibn Katsir, </em>Beirut: Dar al-Fikr, 1401, juz<span> </span>III,<span> </span>hlm. 46).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;margin:3pt 0;"><span style="color:black;">Senada dengan tafsiran ayat tersebut, Imam Qurtubi berpendapat bahwa Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menyuruh umatnya untuk<span> </span>berkomunikasi<span> </span>dengan baik,<span> </span>atau<span> </span>menggunakan<span> </span>kata-kata<span> </span>yang<span> </span>terbaik<span> </span>ketika<span> </span>mereka<span> </span>sedang<span> </span>berkomunikasi atau memberikan petuah kepada sesama mereka (</span>Muhammad bin Yazid bin Jarir bin Khalid at-Thabari Abû Ja’far, <em>Tafsir al-Qurtubi, </em><span> </span> Beirut: Dar al-Fikr, 1405, juz<span> </span>15,<span> </span>hlm. 180).</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:17.85pt;margin:3pt 0;"><span style="font-size:12pt;color:black;">Sedangkan menurut al-Maraghi, bahwa siapa saja<span> </span>yang<span> </span>menginginkan kejayaan di dunia dan akhirat, maka hendaklah<span> </span>ia selalu taat kepada Allah Swt. Ketaatanlah<span> </span>yang akan menjadikan seorang hamba memperoleh kejayaan, sebab kejayaan semata-mata milik Allah Swt., baik di dunia maupun di akhirat. Di antara ketaatan<span> </span>adalah<span> </span>berkata<span> </span>baik,<span> </span>sebab Allah Swt. akan menerima perkataan-perkataan yang baik, seperti tauhid, dzikir, dan bacaan al-Qur`an (</span><span style="font-size:12pt;">Ahmad Musthafa al-Maraghi, <em>Tafsir al-Maraghi, </em><span> </span>Terj.<span> </span>Bahrun Abu Bakar,<span> </span>et. Al.,<span> </span>1992, Semarang: Toha Putra, 1993<span> </span>Jilid<span> </span>22, hlm. 189). </span><span style="font-size:12pt;color:black;">Dan di antara bentuk perkataan yang baik dapat dilihat pada firman Allah dalam QS. an-Nisa: 114. Sedangkan berkaitan dengan keutamaan berkata baik, Rasulullah Saw.bersabda:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;text-indent:14.2pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:3pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;color:black;"><span> </span></span><strong><span style="font-size:12pt;color:black;">حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ وَيُمِيطُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ (رواه البخاري)</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:normal;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:3pt 0;"><em><span style="color:black;">Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya,” Nabi s.a.w telah bersabda, Pada setiap hari terdapat sedekah di setiap sendi manusia ketika matahari terbit. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Berlaku adil di antara dua orang manusia adalah sedekah, membantu seseorang naik ke atas binatang tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas belakang binatang tunggangannya juga adalah sedekah”. Rasulullah Saw. bersabda lagi,” Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju sembahyang dalah sedekah dan membuang sesuatu yang berbahaya di jalan adalah sedekah. </span></em><span style="color:black;">(</span><span>Bukhari, <em><span> </span>op. cit. </em>No. 1677.)</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:normal;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin:3pt 0;"><span style="color:black;">Menurut Ibn Hajar<span class="MsoFootnoteReference"> (</span></span><span>Ahmad bin ‘Ali bin Hajar<span> </span>Abu al-Fadhl al-‘Asqalani al-Syafi’i, <em>Fath al-Bârî, </em>(Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379), hal. Juz 10, hlm. 449)<span style="color:black;">, yang dimaksud dengan pernyataan “perkataan yang baik adalah sedekah”, yaitu perkataan seseorang yang akan membuahkan pahala dari Allah Swt.<span> </span>baginya, sebagaimana Allah Swt. pun telah menjanjikan pahala<span> </span>kepada orang yang mengeluarkan sedekah. Ia juga mengutip<span> </span>hadits dari Adi bin Hatim yang menyatakan, “Jagalah diri kalian walaupun dengan sebiji kurma. Jika kalian tidak memilikinya, maka dengan perkataan yang baik”. </span><span style="color:black;">Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw. Bersabda (<span>Hajar<span class="MsoFootnoteReference"> (</span></span></span>Ahmad bin ‘Ali bin Hajar<span> </span>Abu al-Fadhl al-‘Asqalani al-Syafi’i, <em>Fath al-Bârî, </em>(Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 Kitab Iman, hlm. 69<span style="color:black;">)<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:.05pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:3pt .85pt 3pt 0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;">حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حُصَيْنٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ</span></strong><strong><span style="font-size:12pt;color:black;"> </span></strong><strong><span style="font-size:12pt;color:black;">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي حَصِينٍ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ (رواه: مسلم)</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:17.85pt;margin:3pt 0;"><em><span style="font-size:12pt;color:black;">Telah<span> </span>bercerita<span> </span>kepada<span> </span>kami Abu<span> </span>Bakar bin Abî Syaibah, telah bercerita kepada<span> </span>kami Abu al-Ahwash dari Abu Husain dari Abu Shalih dari Abu Hurairah. Ia<span> </span>berkata bahwa Rasulullah Saw.<span> </span>telah bersabda, “Barangsiapa yang<span> </span>beriman kepada Rasulullah Saw. dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya; Barangsiapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam saja. Dan telah bercerita kepada kami Ishaq bin Ibrahim, telah mengabarkan kepada kami Isa<span> </span>bin Yunus dari A’Masy dari Abû Shaleh, dari Abû Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda sebagaimana hadits dari Abu Hushain tersebut.<strong><span> </span></strong><span>Hanya saja,<span> </span>beliau bersabda: Hendaklah<span> </span>ia berbuat baik kepada tetangganya </span></span></em><span style="font-size:12pt;color:black;">(HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:36pt;margin:3pt 0;"><span style="font-size:12pt;color:black;">Menurut Imam al-Nawawi, maksud dari ungkapan<span> </span><strong><span dir="rtl" lang="AR-SA">فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ</span></strong> , bahwa jika seseorang akan berkata sesuatu, maka hendaklah berpikir dahulu, jika perkataannya akan mendatangkan pahala baginya, baik berkaitan dengan perkara wajib maupun sunat maka katakanlah. Sebaliknya, apabila<span> </span>perkataannya tidak akan mendatangkan<span> </span>pahala,<span> </span>baik<span> </span>secara<span> </span>zhahir<span> </span>berkaitan<span> </span>dengan perkara<span> </span>yang makruh maupun haram, maka hendaklah ia tahan perkataannya (</span><span style="font-size:12pt;">Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, <em><span> </span>Syarh al-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, </em> (Beirut: Dar al-Ihya a;-Turats, 1392), juz II,<span> </span>hlm. 19). <span style="color:black;">Berkomunikasi dengan menggunakan kalimat yang baik dan menghindari kalimat yang buruk. Perkataan yang baik adalah </span><span style="color:black;">kata-kata yang dirangkai dalam pernyataan yang baik laksana pohon yang akan mendatangkan kebaikan, sebalikya pohon yang buruk akan mendatangkan kejelekan, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 25-26. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:18pt;margin:3pt 0;"><span style="font-size:12pt;color:black;">Menurut Ibn Abbas sebagaimana dikutif oleh al-Maraghi, yang dimaksud dengan<span> </span>kalimat<span> </span>yang<span> </span>baik adalah ucapan <em>la ila ha illa Allah</em>, sedangkan pohon yang baik adalah pohon kurma (</span><span style="font-size:12pt;">Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, <em><span> </span>Syarh al-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, </em> (Beirut: Dar al-Ihya a;-Turats, 1392), juz II,<span> </span>hlm. 19). <span style="color:black;">Perkataan yang baik diantaranya:</span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:3pt 0 3pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="FI"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Perkataan yang mulia (<em>qaulan karîman</em>)</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:3pt 0 3pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:12pt;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;">Perkataan yang mudah dicerna<em> </em>(<em>qawlan maysuran</em>)<strong></strong></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>Perkataan yang lembut<em> (qawulan layyinan)</em></strong></li>
</ol>
<h2 style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:3pt 0 3pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;font-weight:normal;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;font-weight:normal;">Perkataan yang baik<em> </em>(qawulan ma’rufan )</span></h2>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:3pt 0 3pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;color:black;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;color:black;">Perkataan yang edukatif-persuasif (<em>qawlan sadidan</em>). </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Perkataan yang mengena (<em>Qawlan balighan</em>)</li>
<li class="MsoNormal">Menggunakan perkataan yang bermutu (<em>qawulan      tsaqilan</em>)</li>
<li class="MsoNormal">Menggunakan perkataan yang agung (<em>qawulan      ‘adziman</em>)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">D. Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Berdasarkan pada uraian di atas maka dapat dipahami bahwa tabligh merupakan salah satu bentuk dakwah dan termasuk dalam kategori </span><em><span lang="IN">da&#8217;wah</span></em><span lang="IN"> <em>bi ahsan al-qawl.</em> Metode dalam tabligh terbagi pada tiga, yaitu: pertama, <em>khithabah</em> yang terbagi pada <em>khithabah diniyah</em> dan <em>khithabah <span style="color:black;">ta’tsiriyah;</span></em><span style="color:black;"> kedua,</span> <em>kitabah</em> yang terbagi pada <em>kitabah melalui media cetak</em> dan <em>media elektronik</em>; dan ketiga <em>i’lan </em><span>(penyiaran) </span>yang terbagi pada penyiaran radio dan televisi, serta film. Sedangkan dalam proses penyampaian pesannya, para mubaligh baik melalui khithabah, kitabah maupun i’lam mesti berpegang pada koridor yang ditetapkan oleh stari’at dan prinsip komunikasi yang baik dan benar sebagaimana diajarkan oleh al-Qur’an dan sunnah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abudzacky.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abudzacky.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abudzacky.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abudzacky.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abudzacky.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abudzacky.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abudzacky.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abudzacky.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abudzacky.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abudzacky.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=31&subd=abudzacky&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/18/struktur-ilmu-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90342627b3bf9a52797d0d36676db1f2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abudzacky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abudzacky.files.wordpress.com/2008/10/poto-blog1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">poto-blog1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/User/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Latahzan for Muslimah</title>
		<link>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/15/latahzan-for-muslimah/</link>
		<comments>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/15/latahzan-for-muslimah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 22:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abudzacky</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abudzacky.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=21&subd=abudzacky&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://abudzacky.files.wordpress.com/2008/10/latahzan-for-muslimah2.jpg"><img class="size-full wp-image-28 alignleft" title="latahzan-for-muslimah2" src="http://abudzacky.files.wordpress.com/2008/10/latahzan-for-muslimah2.jpg" alt="" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abudzacky.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abudzacky.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abudzacky.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abudzacky.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abudzacky.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abudzacky.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abudzacky.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abudzacky.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abudzacky.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abudzacky.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=21&subd=abudzacky&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/15/latahzan-for-muslimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90342627b3bf9a52797d0d36676db1f2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abudzacky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abudzacky.files.wordpress.com/2008/10/latahzan-for-muslimah2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">latahzan-for-muslimah2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa doa Cinta</title>
		<link>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/15/doa-doa-cinta/</link>
		<comments>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/15/doa-doa-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 22:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abudzacky</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abudzacky.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=25&subd=abudzacky&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://abudzacky.files.wordpress.com/2008/10/doa-doa-cinta.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-26" title="doa-doa-cinta" src="http://abudzacky.files.wordpress.com/2008/10/doa-doa-cinta.jpg?w=128&#038;h=193" alt="" width="128" height="193" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abudzacky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abudzacky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abudzacky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abudzacky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abudzacky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abudzacky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abudzacky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abudzacky.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abudzacky.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abudzacky.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=25&subd=abudzacky&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/15/doa-doa-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90342627b3bf9a52797d0d36676db1f2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abudzacky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abudzacky.files.wordpress.com/2008/10/doa-doa-cinta.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">doa-doa-cinta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengubah Mindset</title>
		<link>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/08/mengubah-mindset/</link>
		<comments>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/08/mengubah-mindset/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 04:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abudzacky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abudzacky.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari wabah berkecamuk di Amawas, suatu daerah yang ada di Palestina, kemudian menjalar sampai ke Syam dan Irak. Wabah itu kabarnya telah menewaskan setiap orang yang tertular. Wabah yang berlangsung selama satu bulan itu telah menewaskan kaum muslimin sebanyak 25.000 orang, termasuk diantaranya orang-orang penting dan terkemuka, yaitu: Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’az bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=14&subd=abudzacky&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Suatu hari wabah berkecamuk di Amawas, suatu daerah yang ada<span> </span>di Palestina, kemudian menjalar sampai ke Syam dan Irak. Wabah itu kabarnya telah menewaskan setiap orang yang tertular. Wabah yang berlangsung selama satu bulan itu telah menewaskan kaum muslimin sebanyak 25.000 orang, termasuk diantaranya orang-orang penting dan terkemuka, yaitu: Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’az bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan, Haris bin Hisyam, Suhail bin Amr, Utbah bin Suhail dan banyak lagi yang lain yang setingkat mereka, termasuk didalamnya adalah Haris bin Hisyam yang berangkat dari Madinah ke Syam dengan tujuh puluh anggota keluarganya,<span> </span>dan hampir semua anggota keluarganya tewas, kecuali empat orang yang selamat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Disebutkan konon, keempat puluh orang anak Khalid bin Walid tewas semua oleh wabah yang menyebar dikalangan tentara, begitu juga dikalangan penduduk sipil. Semua orang dalam ketakutan, khawatir juga akan akibatnya. Andai kata pihak musuh mencoba kembali menyerang mereka niscaya mereka sudah tidak berdaya lagi mengadakan perlawanan. Tetapi pihak Romawi memang sudah sangat takut wabah itu akan menimpa mereka seperti yang menimpa kaum Muslimin, dan memang sudah tidak terpikir akan kembali lagi, karena takut oleh bencana yang sekarang sedang menimpa musuh mereka (kaum Muslimin).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Sementara Umar sudah berniat akan pergi ke syam untuk mengurus segala hal yang diperlukan. Ia sudah berangkat dari Madinah<span> </span>hingga mencapai Sar’ di dekat Tabuk. Pada waktu Umar di jemput oleh pemimpin-pemimpin militernya, seperti Abu Ubaidah bin Jarah, Yazid bin Abu Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah, mereka memberitahukan bahwa daerah itu sedang dilAnda penyakit menular yang sangat ganas dan Umar pun merasa ngeri mendengarnya. Sore harinya kaum Muhajirin mengadakan musyawarah, apakah akan meneruskan ke Syam dengan adanya penyakit menular, atau kembali ke Madinah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><span> </span>Mereka bersilang pendapat, ada yang mengatakan ”perjalanan kita demi di jalan Allah dengan segala akibatnya, sehingga bahaya apa pun bukan halangan.” Ada juga yang berpendapat ”Itu suatu bencana dan kepunahan, kita tak perlu meneruskan perjalanan”. Umar mengumpulkan kaum Muhajirin Quraisy yang pernah membebaskan Mekah, ia minta pendapat mereka. Tak ada yang berbeda pendapat, semua mengatakan: ”Lebih baik kita kembali, itu adalah suatu bencana dan kepunahan”. Dengan perintah Umar, Ibn Abbas berseru agar mereka menyiapkan kendaraan. Selesai shalat Subuh Umar menoleh kepada mereka dan berkata: ”Saya akan pulang, maka pulanglah kalian”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><span> </span>Abu Ubaidah tidak hadir tatkala Umar mengadakan rapat dan sudah mengambil keputusan. Setelah mengetahui ia berkata: ”Umar, kita akan lari dari takdir Allah!”. Sanggahan ini sangat mengejutkan khalifah. Ia lama menatap Abu Ubaidah, kemudian<span> </span>katanya: ”Ya, lari dari takdir Allah menuju takdir Allah juga”. Ia menunduk sebentar, kemudian menyambungnya: ”Bagaimana pendapat Anda kalau ada orang turun ke sebuah wadi yang terdiri dari dua buah lereng, yang satu subur dan yang satu lagi tandus, bukankah yang menggembalakan di tempat tandus itu dengan takdir Allah, dan yang menggembalakan di daerah subur juga dengan takdir Allah?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><span> </span><span> </span>Setelah percakapan itu, Umar berdua dengan Abu Ubaidah membahas masalah Syam dan apa yang harus dilakukan menghadapi wabah itu. Sementara keduanya sedang dalam pembicaraan tiba-tiba datang Abdur-Rahman bin Auf. Melihat dua orang itu sedang kacau, ia berkata: ”Mengenai soal ini ada yang saya ketahui”. Rasulullah saw. berkata: <em>”Jika ada wabah di suatu kota, janganlah kalian masuk. Kalau kalian sedang ada didalamnya janganlah kalian lari ke luar”.</em> Setelah mendengar hadits itu dibacakan Umar merasa tentram, lalu katanya ”<em>Alhamdulillah</em>, sekarang kita bubar”.<span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><span> </span><span> </span>Ketika Umar memerintahkan mereka segera kembali ke Madinah, Umar, ”lari dari takdir Allah” menuju<span> </span>”takdir Allah juga”, dan jawaban Umar itu dapat dijadikan sebuah pandangan mengenai masalah takdir yang dipertentangkan orang sampai masa kita sekarang ini. Perkataan Umar itu merupakan gambaran yang sungguh jelas mengenai pengertian takdir dalam Islam. Perkataan Abu Ubaidah dan sahabat-sahabatnya yang menyarankan agar datang ke Syam dengan mengatakan: ”Perjalanan kita demi di jalan Allah dengan segala akibatnya”, percaya bahwa segala yang akan menimpa kita sudah ditakdirkan Allah, sudah ditentukan dan bila waktunya sudah tiba, sesaat pun mereka tak dapat memajukan atau menundanya, adalah merupakan pemahaman mengenai takdir juga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Mereka menganggap<span> </span>bahwa kita tidak bisa menolak nasib buruk, oleh sebab itu jika kita sudah memutuskan sesuatu maka kita harus terus maju, tak ada bencana atau halangan apa pun yang akan merintangi kita. Pandangan ini, merupakan perspektif mengenai takdir yang menjadikan pimpinan-pimpinan militer itu telah menjadi sumber kekuatan yang luar biasa . Seorang prajurit yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah yakin sekali bahwa kemenangannya sudah terjamin. Pertama sekali keyakinan yang benar-benar kuat itu akan memberikan dorongan, bahwa seorang prajurit tidak boleh takut mati, dan akan terus maju dengan hati gembira. Jika dia mati, mati syahid, demi Allah, demi tanah air, dan demi yang dibelanya. Jika ia mendapat kemenangan, ia akan hidup bangga untuk selamanya. Keimanan prajurit dengan pandangan takdir yang demikian, memberikan kemenagan kepada pasukan Muslimin di berbagai medan perang, karena mereka yang memilih mati syahid demi Allah itu, justru Allah memberikan kehidupan terhormat dan mulia kepada mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><span> </span>Tetapi percaya kepada takdir dengan pengertian itu, pengaruhnya<span> </span>begitu besar bagi kehidupan prajurit, tetapi tidak boleh dijadikan kepercayaan atau keyakinan dalam posisi yang berbeda. Terutama pada posisi yang menuntut tanggung jawab atas segala kepentingan dan nasib umat manusia, baik dalam perang maupun dalam damai. Begitu juga bagi seorang pemikir yang harus melihat segala sesuatu itu dengan berbagai akibatnya, ia mesti memperhatikan dan mempertimbangkan dengan matang dan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan pengetahuan dan akal kita yang membawa kita kepada akal sehat, kepada pengetahuan dan pemikiran yang baik, itulah takdir Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Tak bedanya dengan keberanian seorang prajurit dalam menghadapi maut di medan perang, dan musibah apa yang akan menimpanya akibat keberanian itu, itulah takdir Allah. Karena kewajiban pertama bagi seorang komandan pasukan, tentu menjaga agar jangan sampai prajuritnya terjerumus ke dalam bencana karena pandangannya yang salah, dan jangan menghadapkan mereka ke dalam<span> </span>bahaya maut sebelum pandangannya itu dipandang benar-benar dapat dipastikan untuk disesuaikan dengan situasi sebelum terjun ke dalam pertempuran. Sebab jika sudah terjun maka ia harus berusaha untuk mendapat kemenangan dengan pengorbanan sekecil mungkin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><span> </span>Sedangkan bagi seorang poltikus atau seorang negarawan, kewajiban pertamanya harus menjaga, baik dirinya atau orang yang berada di bawah tanggung jawabnya, jangan sampai terjerumus ke dalam bencana yang seharusnya dapat dihindari, tanpa membahayakan kepentingan negara, baik untuk masa sekarang maupun masa depan. Jika dengan berbagai pertimbangan itu apa yang dikehendakinya berhasil, maka keberhasilannya itu akan menjadi suatu kebanggaan, seperti kebanggaan prajurit dengan kemenangannya, maka keberhasilan yang dapat diraihnya, itulah takdir dan rahmat Allah kepada hamba-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><span> </span>Ketika kelompok Muhajirin menyarankan kepada Umar agar ia menerima pendapat untuk<span> </span>kembali ke<span> </span>Madinah, penerimaan dan persetujuan Umar untuk kembali ke Madinah adalah hikmah yang luar biasa. Andaikata ia pergi juga ke Syam kemudian terserang wabah dan meninggal, niscaya kaum Muslimin akan menderita kerugian yang sangat besar, dan bukan tak mungkin akan timbul huru-hara. Oleh sebab itu, ketika ia lari dari maut dan menghindari penularan wabah itu ke Semenanjung Arab, ”<em>ia lari dari takdir Allah</em>” untuk menjauhkan diri dan menjauhkan Semenanjung itu dari malapetaka yang tidak dikehendaki Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><span> </span>Contoh yang diberikan Umar kepada Abu Ubaidah dalam peritiwa ini, merupakan hikmah dalam memahami takdir. Seperti seorang gembala ketika melihat sebuah lembah dengan dua lereng, yang satu subur dan yang satu lagi tandus, kedua lereng itu –subur dan tandus- adalah takdir Allah, jika ia menggembalakan di tempat yang tandus, itu adalah takdir Allah, dan jika ia menggembalakan di tempat yang subur, juga takdir Allah. Begitu juga berkaitan<span> </span>wabah yang terjadi di Syam pada dasarnya ibarat kedua lereng tadi, maka ketika Umar sudah mengetahui akibat yang akan terjadi jika ia tetap pergi ke Syam, juga telah mengetahui jika ia kembali ke Madinah, maka ia wajib memilih (berikhtiar) di antara keduanya. Hasil ikhtiarnya, Umar memutuskan ”<em>ia lari dari takdir Allah yang satu kepada takdir Allah yang lain</em>”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Ikhtiar Umar itu diperkuat oleh hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abdur-Rahman bin Auf yang mengatakan: ”<em>Jika ada wabah di suatu kota, janganlah kalian masuk. Jika kalian sedang ada di dalamnya janganlah kalian lari ke luar</em>”. Hal ini merupakan proses<span> </span>berjaga-jaga (<em>ikhtiar</em>) mengenai kemungkinan yang akan terjadi, dan yang demikian berarti bahwa apa pun yang kita peroleh dalam hidup ini, merupakan ketentuan takdir. Orang yang berpikir bijaksana oleh Allah akan dibimbing kepada nasib yang lebih baik, dan inilah yang ditakdirkan Allah baginya. Akan tetapi jika pikiran seseorang sudah tidak berhasil dan dia masih terkena musibah maka musibah tersebut adalah takdir Allah juga,<span> </span>”<em>Ikhtiar menjalani, takdir menyudahi</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Pandangan Umar mengenai takdir, merupakan gambaran mengenai ajaran <em>qadariah, </em>juga mengenai ajaran determinisme ilmiah seperti yang diketahui dewasa ini yang sudah berkembang sejak lama, yaitu sebuah pandangan yang dikembangkan oleh para filsuf Yunani. Ajaran yang menyatakan bahwa ”pendapat ini atau pendapat itu, tentang soal ini dan soal itu terpengaruh oleh sekian banyak faktor di luar kemampuan kita untuk mengatasinya”, dan semua itu merupakan takdir<span> </span>Allah juga, oleh karena itu orang yang lari dari takdir Allah ke takdir Allah lainnya adalah sesuatu yang tidak bisa disalahkan, karena sesungguhnya Allah memberikan kesempatan kepada setiap umat manusia untuk memilih dan memperbaiki takdirnya masing-masing. Hal ini selain didasarkan pada hadits Nabi saw sebagaimana disebutkan di atas juga didasarkan pada salah satu firman Allah yang menyebutkan:</span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" dir="rtl" lang="AR-SA"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">”..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri&#8230;” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">(QS. Ar-ra’d [13]:11).<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Berdasarkan pandangan Umar, hadits Nabi saw dan ayat di atas, maka dapat dipahami bahwa Allah menyediakan pilihan-pilihan pada umat manusia atas takdirnya masing-masing, dan setiap orang pada dasarnya telah diberi kesempatan untuk memilih takdirnya. Kesempatan untuk memilih takdir itu terbuka luas selama hayat masih dikandung badan, oleh sebab itu kehidupan yang diperoleh oleh setiap manusia, selain sebagai proses ujian bagi setiap orang apakah dia termasuk orang yang bersyukur atau orang yang kufur, juga sebagai kesempatan untuk memilih takdir yang telah disediakan oleh Allah Swt. dan apa pun yang mereka pilih adalah takdir Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Setiap manusia, diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk memilih dan memperbaiki takdir kehidupannya masing-masing, apakah dia akan ”memilih lembah yang tandus atau memilih lembah yang subur”. Persoalannya bukan pada takdirnya, tetapi pada kemauan dan keseriusan setiap orang dalam memilih takdir-takdir yang telah disediakan oleh Allah, karena ”takdir” bukanlah masalah kesempatan tetapi pilihan yang mesti diperjuangkan. Oleh sebab itu, janganlah berdalih pada takdir jika pada akhirnya Anda ”jadi begini atau jadi begitu”,<span> </span>takdir seperti apakah yang<span> </span>akan Anda pilih, terserah kepada Anda sendiri, karena Tuhan tidak akan mengubah ”takdir” seseorang jika dia sendiri tidak berusaha mengubahnya, sebab kesempatan untuk memilih takdir manakah yang akan Anda pilih sudah<span> </span>diberikan oleh Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Dengan begitu, jangan terlalu cepat untuk mengatakan apalagi menyalahkan bahwa ”begini atau begitu”, adalah karena takdir yang menghendakinya, sebab seperti apakah Anda kini dan seperti apakah Anda nanti, sangat dipengaruhi oleh keputusan Anda sendiri dalam memilih takdir Anda sendiri, karena Allah telah menyediakan pilihan sekaligus kesempatan pada setiap orang dan Allah tidak akan mengubah Anda pada sesuatu yang lebih baik (sukses), jika Anda sendiri tidak memilihnya untuk menjadi orang yang sukses atau berhasil maka Allah tidak akan memberikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Jika Anda berharap menjadi orang sukses maka Anda mesti memilih jalan Anda untuk mencapai kesuksesan itu, dan bukan hanya menggantungkan harapan itu –sukses- sebagai pelengkap angan-angan yang menghiasi impian pada saat tidur di waktu malam. Karena memilih sesuatu pada dasarnya merupakan keputusan yang mesti dijalankan agar dapat meraihnya, sesuatu yang mesti diusahakan untuk mendapatkannya. Bukan sesuatu yang ditunggu-tunggu seiring kesempatan (”takdir”) yang akan diberikan oleh Tuhan, sebab mengusahakan atau menunggu kesuksesan (keberhasilan), keduanya merupakan takdir Allah, seperti seorang gembala ketika melihat sebuah lembah dengan dua lereng, yang satu subur dan yang satu lagi tandus. Kedua lereng itu adalah takdir Allah, jika ia menggembalakan di tempat yang tandus, itu adalah takdir Allah. Sebaliknya jika ia menggembalakan di tempat yang subur, juga merupakan takdir Allah. Persolannya adalah takdir manakah yang akan Anda pilih, tempat yang tandus atau tempat yang subur. Artinya, Anda dapat memilih menjadi orang sukses atau akan menempatkan diri menjadi seorang yang gagal, keduanya adalah pilihan dan keduanya adalah takdir Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (QS. An Najm [53]:39).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Allah sangat menghargai hamba-hamnba-Nya yang berusaha keras untuk mengejar kualitas hidup yang lebih tinggi, dan ”tidak suka” kepada orang-orang yang lali, bermalas-malasan, apalagi berputus asa. Kegigihan dalam berjuang menjadi modal dalam kesuksesan dan sangat dihargai oleh Allah. Sedangkan kuncinya adalah sabar dan tidak pernah putus asa. Seorang muslim tidak boleh takut pada kesulitan, karena bersama kesulitan terdapat kemudahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (QS. Al-Insyirah [94]:5-7).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Dengan demikian bagi orang-orang yang berusaha mencapai takdirnya yang terbaik, maka Allah akan memberikan kemenangan, dan untuk mencapai kemenangan hendaklah berusaha secara kerja keras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja&#8221; (QS. Ash Shafaat [37]: 61).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Bagi orang-orang yang mau berjuang dan berusaha serta bekerja keras maka dia bukan hanya mendapatkan kemenangan di dunia tetapi juga di akhirat kelak, karena Tuhan telah menyediakan apa yang kamu usahakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Tuhan-mu adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu. (QS. Al-Israa<span> </span>[17]:66). </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abudzacky.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abudzacky.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abudzacky.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abudzacky.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abudzacky.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abudzacky.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abudzacky.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abudzacky.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abudzacky.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abudzacky.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=14&subd=abudzacky&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/08/mengubah-mindset/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90342627b3bf9a52797d0d36676db1f2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abudzacky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berani Jujur Pada Diri Sendiri</title>
		<link>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/08/berani-jujur-pada-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/08/berani-jujur-pada-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 04:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abudzacky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abudzacky.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda bertanya pada teman, saudara, guru atau siapa saja yang Anda pandang bahwa dia tahu tentang berbagai kelebihan yang Anda miliki ? Bagaimana rasanya ketika orang yang Anda tanya itu memberikan gambaran atau penjelasan tentang berbagai kelebihan yang Anda miliki itu ? Mungkin Anda merasa senang, karena seolah-oleh bahwa dia sedang memberikan sanjungan pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=9&subd=abudzacky&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Pernahkah Anda bertanya pada teman, saudara, guru atau siapa saja yang Anda pandang bahwa dia tahu tentang berbagai kelebihan yang Anda miliki ? Bagaimana rasanya ketika orang yang Anda tanya itu memberikan gambaran atau penjelasan tentang berbagai kelebihan yang Anda miliki itu ? Mungkin Anda merasa senang, karena seolah-oleh bahwa dia sedang memberikan sanjungan pada Anda. Tidak apa-apa, jika Anda merasa senang karenanya, rasa senang Anda itu cukup manusiawi. Sebab siapa pun akan sama seperti Anda, ketika dia mendapat informasi mengenai berbagai kelebihan yang dimiliki oleh dirinya maka dia akan merasa senang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Persoalannya, bagaimana caranya agar menjadi berbeda dengan kebanyakan orang di sekitar Anda. Cukupkah dengan merasa senang saja?<span> </span>Merasa senang ketika orang lain menyampaikan berbagai kelebihan itu adalah sesuatu yang manusia itu, tetapi rasa senang itu tidak bisa dijadikan sebagai modal untuk meraih sukses yang diidam-idamkan, tidak bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan diri, dan tidak bisa diandalkan untuk bersaing dengan orang lain. Oleh sebab itu, ketika Anda sudah mendapatkan informasi mengenai berbagai kelebihan yang Anda miliki, pekerjaan yang kemudian penting lakukan adalah membuat agenda pribadi untuk mengembangkan berbagai potensi atau kelebihan yang Anda miliki itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Kemudian pernahkah Anda bertanya pada orang lain tentang berbagai kelemahan yang ada pada diri Anda? Mungkin untuk melakukan hal ini akan terasa sulit, oleh sebab itu tidak banyak orang yang sanggup melakukannya. Tentu banyak alasan yang menyebabkan orang tidak melakukannya. Menurut Anda, kira-kira apa yang menyebabkan seseorang tidak berani bertanya kepada orang lain tentang berbagai kelemahan atau kekurangan yang terdapat pada dirinya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Karena malukah ? Sehingga dia tidak pernah bertanya pada orang lain. Karena takutkah ? Sehingga<span> </span>dia tidak berani bertanya pada orang lain. Keduanya sangat mungkin, sehingga seseorang tidak berani dan tidak pernah bertanya pada orang lain tentang berbagai kelemahan atau kekurangan yang ada pada dirinya. Akan tetapi alasan yang lebih dalam, dibandingkan dua alasan di atas adalah bahwa dia “<em>tidak berani jujur pada diri sendiri</em>”, sehingga dia menjadi takut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Takut orang lain tahu tentang berbagai kelemahan yang ada pada dirinya, takut orang mentertawakan tentang berbagai kekurangan yang ada pada dirinya, takut orang akan merendahkan harga dirinya karena mereka mengetahui berbagai kelemahan yang ada pada dirinya, takut orang lain tidak lagi menghargai dirinya, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Rasa takut seperti itu pada dasarnya disebabkan oleh tidak adanya keberanian untuk jujur pada diri sendiri, sehingga dia tidak siap untuk mendengarkan, tidak siap untuk menerima berbagai informasi mengenai kelemahan atau kekurangan dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Kejujuran pada diri sendiri sangat erat kaitannya dengan penerimaan diri, maka ketika seseorang tidak berani jujur pada diri sendiri sebenarnya dia tidak siap dan tidak berani menerima keadaan dirinya. Hal demikian dipengaruhi oleh nilai-nilai, keyakinan dan cara berpikir seseorang, karena nilai-nilai, keyakinan dan cara berpikir akan menciptakan apa yang kita rasakan, kita katakan dan kita lakukan, juga akan menentukan hasil yang akan diperoleh, sebab seseorang akan menjadi apa yang dirasakan, diyakini dan dipikirkanya. Kebanyakan orang atau mungkin setiap orang, akan menjalani kehidupannya sesuai dengan model mental dirinya, yaitu sesuai dengan nilai-nilai, keyakinan dan pikirannya dan mengabaikan sesuatu yang berbeda atau berlawanan dengan model mental dirinya. Sayangnya banyak nilai-nilai, perasaan, keyakinan dan pikiran itu terkubur begitu dalam di alam bawah sadar kita, bahkan kita sendiri tidak menyadari bahwa kita memegangnya erat-erat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Nilai-nilai, keyakinan, dan pikiran ini penting, karena semuanya akan menjadikan siapa diri Anda sebenarnya, menjadikan seperti apa model mental Anda dan akan mendefiniskan siapakah diri Anda sebenarnya. Tiga hal itu akan menjadi cermin yang Anda gunakan untuk memandang dunia, warna apa yang akan Anda lihat, suara apa yang akan Anda dengar, dan akan mengkerangka bagaimana Anda memikirkannya serta kesimpulan seperti apa yang akan Anda buat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Persolaannya adalah “Telah jujurkah kita pada diri sendiri ? Untuk jujur pada diri sendiri, sangat dibutuhkan keberanian yang besar, melebihi besarnya keberanian untuk menghadapi tantangan lain, selain untuk jujur itu sendiri. Oleh sebab itu, Anda harus berani menjawab ”telah jujurkah saya pada diri sendiri ?”. Kemudian jika memang terdapat beberapa kelemahan dan kekuarangan pada diri, mampukah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi berbagai persoalan,<span> </span>menyongsong senja menanti pagi yang silih berganti ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Kejujuran pada diri sendiri, akan menjadi energi untuk memperbaiki berbagai kekurangan itu, juga menjadi kekuatan untuk menyatakan bahwa “<em>dalih</em>”, hanyalah alasan untuk menutupi kelemahan atau membungkus kekurangseriusan dalam meraih sesuatu yang dicita-citakan atau meraih kesuksesan yang diidam-idamkan. Kejujuran pada diri sendiri pada perjalanannya akan menjadi modal terbangunnya “pemahaman diri” dan “perasaan diri” secara positif. Jadi, kejujuran pada diri sendiri merupakan modal yang sangat diperlukan seseorang dalam meraih kesuksesan, karena dengan itu seseorang akan memiliki “pemahaman diri” dan “perasaan diri” secara positif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Pemahaman diri dan perasaan diri merupakan dua pilar yang membangun konsep diri seseorang yang ditegakkan oleh komponen kognitif dan komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra-diri (<em>self image</em>) dan komponen afektif disebut harga-diri (<em>self esteem</em>). Citra diri adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri: berkompeten atau tak berdaya, pemalu atau ramah, lembut atau kasar, pembelajar cepat atau lambat, dapat diandalkan atau serampangan. Sedangkan harga diri merupakan refleksi perasaan diri, penghormatan diri dan nilai diri, nilai yang kita tempatkan pada diri kita sendiri sebagai orang dan harapan yang kita miliki dari dan untuk diri kita sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Orang-orang dengan harga diri yang tinggi biasanya merasa nyaman dan percaya diri. Akan tetapi berkaitan dengan harga diri atau citra-diri (<em>self image</em>)<span> </span>terdapat sesuatu yang mesti disadari, karena jika seseorang tidak kontrol maka dia akan memasang harga atau citra dirinya terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan keadaan dirinya. Dengan begitu ia akan menjadi orang yang <em>over confident </em>(terlalu percaya diri) hingga dia akan menjadi sombong (takabur). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Sedangkan orang-orang yang harga dirinya rendah akan merasa tidak bernilai dan tidak nyaman, mereka kurang percaya diri untuk mengatakan apa yang ada dalam benaknya. Orang yang memasang harga-diri (<em>self esteem</em>) terlalu rendah juga akan bahaya, sebab orang yang demikian akan menjadi serba ragu dan minder. Dengan begitu keberanian dan kreativitasnya akan hilang, karena tertutup olah rasa takut dan rasa malu yang berlebihan. Berdasarkan dua hal di atas, coba Anda nilai posisi Anda sekarang, bagaimana pandangan yang Anda pegang tentang diri Anda, apakah positif, negatif atau biasa-biasa saja ? Pandangan diri Anda pada akhirnya akan memandu segala sesuatu yang Anda pikirkan, Anda rasakan dan Anda katakan juga Anda lakukan. </span><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Oleh sebab itu, konsep diri (<em>self image </em>dan<em> self esteem</em>) akan memainkan peran sentral dalam kesuksesan seseorang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Pertanyaannya, bagaimana menurut Anda mengenai diri Anda sendiri ? Apakah Anda menyukai diri Anda sendiri ? Apakah Anda berpikir sebagai orang yang berharga dan penting ? Apakah Anda percaya bahwa Anda patut mendapatkan yang terbaik ? Seberapa nyamankah Anda dengan diri Anda yang sebenarnya? Jika kini Anda merasa rendah diri, pemalu, kurang percaya diri maka segeralah naikan harga diri Anda, akan tetapi jika Anda terlampau percaya diri, itu juga sebuah pertanda ada sesuatu yang kurang tepat dalam memahami diri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Untuk itu, terdapat beberapa hal yang Anda dapat lakukan untuk menaikkan harga diri Anda, yaitu dengan cara berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada menyalahkan orang lain, terimalah tanggung jawab untuk bergembira, mencapai tujuan, menikmati kehidupan Anda;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada memusatkan pada kesalahan Anda, lebih baik<em> </em>melakukan sesuatu agar perasaan<em> </em><span> </span>dan pikiran Anda lebih positif, sehingga<em> </em>dapat membangun kepercayaan diri Anda dan yang membuat Anda merasa lebih baik, kompeten dan berkecukupan;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada terus berhubungan dengan para pecundang, bertemanlah dengan orang-orang yang punya harga diri lebih positif<em> </em>dan yang membuat Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada duduk di rumah, ikutilah aktivitas yang Anda senangi;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada bersikap kritis kepada diri Anda sendiri dan orang lain, carilah sesuatu yang Anda sukai pada diri Anda sendiri dan pada setiap orang yang Anda kenal dan temui;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada mencoba mengubah orang lain, fokuskan untuk menjadi orang<em> </em>yang Anda inginkan;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada menjalani hidup di masa depan atau masa lalu, hiduplah di masa sekarang;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada mengatakan “saya tidak dapat melakukan ini” atau “saya tidak tahu apapun tentang hal ini”, bacalah, hadiri seminar, belajarlah dari orang lain,<em> </em>lakukan apa pun yang Anda bisa untuk mengembangkan bakat dan keterampilan Anda;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada memusatkan pada kegagalan Anda, <em>akui dan rayakan prestasi </em>dan kesuksesan Anda;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>10.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada terlalu banyak makan dan minum, dan kurang latihan, jagalah diri sendiri,<em> </em>Anda patut mendapatkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>11.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Daripada mengatakan ”Oh, tidak ada apa-apanya, sungguh”, terimalah pujian orang lain<em>, </em><span> </span>katakan ”terima kasih” dan nikmati perhargaan itu tanpa rasa malu.<span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Jadi, konsep diri (citra diri dan harga diri) merupakan faktor yang sangat menentukan<span> </span>perilaku seseorang, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Jelaslah kini, bila seorang mahasiswa (Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, misalnya) merasa dirinya sebagai orang yang mampu menjadi <em>mubaligh</em> atau menjadi seorang penyiaran Islam, maka ia akan akan berusaha menjadikan dirinya sebagai<span> </span><em>mubaligh</em> atau penyiaran Islam, ia akan berusaha menghadiri kuliah dengan teratur, mempelajari materi perkuliahan dengan rajin dan sungguh-sungguh, sehingga ia akan memperoleh apa yang diharapkannya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Sebaliknya, jika ia merasa rendah diri dan memandang bahwa dirinya tidak akan mampu menjadi seorang <em>mubaligh </em>(penceramah) atau penyiar ”hebat” maka ia akan mengalami kesulitan meraih harapannya untuk menjadi seorang mubaligh atau penyiar. Kemudian ia akan malas masuk kuliah, tidak rajin mempelajari materi kuliah dan tidak aktif dalam mengikuti pelatihan-pelatihan serta kegiatan yang mendukung untuk menjadikan dirinya sebagai <em>mubaligh </em>(penceramah) atau penyiar ”hebat”. Sebab ia hanya akan mengangap bahwa dirinya tidak mungkin bisa menjadi seorang <em>mubaligh</em> atau menjadi atau penyiar Islam yang ”hebat”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Dengan begitu, konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian Anda tentang diri Anda. Konsep diri meliputi apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan tentang diri Anda. Oleh sebab itu, Anita Taylor <em>et al </em>(1977) mendefinisikan konsep diri sebagai “<em>all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself”.<span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"> </span></span></em>Jadi untuk sukses menjadi seorang <em>mubaligh</em> (penceramah) atau penyiar Islam akan banyak bergantung pada apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan mengenai diri Anda, artinya kesuksesan Anda sangat besar dipengaruhi oleh bagaimana konsep diri Anda, positif atau negatif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Untuk menilai diri Anda, apakah positif atau negatif dalam kerangkan konsep diri, menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (1976) memiliki tanda-tanda orang yang memiliki konsep diri yang negatif, sebagai berikut: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Ia peka pada kritik, orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Respnsif sekali terhadap pujian, walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Cenderung merasa tidak disenangi orang lain dan ia merasa tidak diperhatikan, karenanya bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban pershabatan; dan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="PT-BR">Bersikap pesimis terhadap kompetisi, seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Sebaliknya, orang-orang yang memiliki konsep diri positif secara umum akan ditandai dengan lima hal berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:53.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia yakin akan kemampuannya menagatasi masalah;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:53.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Ia merasa setara dengan orang lain;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:53.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia menerima pujian tanpa rasa malu;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:53.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat; dan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:53.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Dalam kenyataannya, memang tidak ada orang yang betul-betul sepenuhnya berkonsep diri negatif atau positif, tetapi untuk meraih kesuksesan sebagaimana diharapkan oleh Anda maka sedapat mungkin Anda memperoleh sebanyak mungkin tanda-tanda konsep diri positif. Bahkan D.E. Hamachek (1976) menyebutkan sebelas karakteristik orang yang mempunyai konsep diri positif:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia meyakini betul-betul niali-nilai dan prinsip-prinsip tertentu<span> </span>serta bersedia mempetehankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi dia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prisip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi pada waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusiatidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai shabatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="FI">Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV"><span>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV"><span>9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai keputusan yang mendalam pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV"><span>10.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan, atau sekedar mengisi waktu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:3pt 0 .0001pt .75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV"><span>11.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang tlah diterima, dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Konsep diri positif akan menjadi kekuatan untuk menyusun bangunan <em>self confidence </em>(percaya diri) yang dapat menggerakan pikiran dalam membentuk sebuah keyakinan dan menghapus keragu-raguan, karena dengan kekuatan itu seseorang akan berusaha mencari jalan, sarana serta cara meraih kesuksesan yang dicita-citakannya. Sebaliknya konsep diri negatif akan berdampak pada kekurang percayaan diri, sebab bagi mereka yang memiliki konsep diri negatif akan merasa bahwa dirinya tidak mampu melakukan apa yang orang lain dapat lakukan, ia akan cenderung menghindar dari persoalan, ia takut orang lain akan mengejeknya atau menyalahkannya, sehingga ia akan menjadi serba takut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Jadi, konsep diri positif yang dimiliki seseorang merupakan kekuatan yang akan menjadikan ia seperti yang dipikirkannya. Sebaliknya keragu-raguan, rendah diri, kesalahan dalam membuat citra-diri (<em>self image</em>) serta kesalahan dalam perasaan diri atau harga diri (<em>self esteem</em>) merupakan kekuatan negatif yang seringkali hadir menghalangi langkah kesuksesan, sebab keraguan pada diri sendiri secara tidak proporsional merupakan buah dari cara merasa dan cara memahami diri yang salah. Kesalahan ini<span> </span>-cara berpikir dan cara merasa- ujung-ujungnya akan menarik ”<em>dalih</em>” yang dapat menyokong dan membangun tidak percaya pada diri sendiri secara berlebihan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Kesalahan cara berpikir (negatif) akan memandu ”otak Anda yang hebat” memproduksi sesuatu yang tidak berarti, tidak menghasilkan sumbangan dan tidak memberikan apa pun yang bermanfaat. </span><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="ES">Ia hanya akan mengkubur semua nilai, keyakinan dan pengetahuan serta cita-cita yang Anda miliki. Oleh sebab itu ketahuilah ”<em>sesungguhnya cara berpikir jauh lebih penting dari banyak intelegensi yang Anda miliki</em>”, sebab cara berpikir yang Anda gunakan akan memandu intelegensi (kecerdasan) Anda, baik kecerdasan intelektual, dan kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="ES">Dengan demikian yang paling penting adalah ”<em>bukan seberapa banyak intelegensi yang Anda miliki, tetapi bagaimana caranya mengoptimalkan potensi intelegensi yang benar-benar Anda miliki</em>”. Untuk mengoptimalkan potensi intelegensi yang Anda miliki akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara Anda berpikir, karena cara berpikir yang Anda gunakan akan memandu intelegensi yang Anda miliki. Karena itu, setiap pemikiran negatif jika dipupuk dengan berulang-ulang akan berkembang menjadi monster pikiran yang riil yang dapat menghancurkan percaya diri dan melicinkan jalan<span> </span>pada kegagalan, sebab keraguan, ketidakpercayaan, keinginan bawah sadar untuk gagal, perasaan tidak benar-benar ingin berhasil akan berpengaruh terhadap sebagian besar kegagalan Anda. Sebaliknya, kepercayaan atau keyakinan dan cara berpikir positif akan menjadi motor dan kekuatan penggerak yang memicu keberhasilan dan menjadi salah satu faktor determinan<span> </span>meraih kesuksesan. Artinya, dengan keyakinan dan cara berpikir positif serta percaya pada diri sendiri maka segala hal yang baik pasti mulai terjadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:13pt;font-family:Garamond;" lang="SV">Apakah yang akan menentukan seberapa besar kesuksesan Anda? Lingkungan tempat Anda dilahirkan? Keberuntungan yang menjadi bagian dari kehidupan? Kesempatan dan kekayaan yang dimiliki? Mungkin semua itu ada kaitannya.<span> </span>Meskipun demikian, yang lebih penting adalah nilai-nilai, keyakinan, dan pikiran Anda sendiri, sebab semua itu yang akan menyusun realitas diri Anda dan penyebab langsung tentang apa yang Anda rasakan, Anda pikirkan, dan Anda katakan serta Anda lakukan, semua itu akan menjadi kekuatan untuk berani jujur pada diri sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abudzacky.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abudzacky.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abudzacky.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abudzacky.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abudzacky.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abudzacky.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abudzacky.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abudzacky.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abudzacky.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abudzacky.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=9&subd=abudzacky&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/08/berani-jujur-pada-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90342627b3bf9a52797d0d36676db1f2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abudzacky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JALAN CINTA</title>
		<link>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/08/jalan-cinta/</link>
		<comments>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/08/jalan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 04:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abudzacky</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abudzacky.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[JALAN CINTA SEPASANG MANUSIA
 
Titik mula pada saat dua orang –pria dan wanita- memutuskan bersama-sama untuk menjadi pasangan suami-istri, karena keduanya merasa “cocok” untuk hidup bersama. Inilah awal semua cerita cinta, dongeng indah sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara, agar cerita cinta berakhir dengan bertaburkan rasa suka dan dapat hidup bahagia selama-lamanya. Akan tetapi wahai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=6&subd=abudzacky&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN">JALAN CINTA SEPASANG MANUSIA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Titik mula pada saat dua orang –pria dan wanita- memutuskan bersama-sama untuk menjadi pasangan suami-istri, karena keduanya merasa<span> </span>“cocok” untuk hidup bersama. Inilah awal semua cerita cinta, dongeng indah sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara, agar cerita cinta berakhir dengan bertaburkan rasa suka dan dapat hidup bahagia selama-lamanya. Akan tetapi wahai anak manusia, cerita cinta dengan harapan bahagia bukanlah sesuatu yang tidak bervariasi, ia akan berpluktuasi dalam alur ceritanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Sejak semula –dalam kenyataannya- suatu perkawinan akan dihadapkan pada tantangan dan tekanan, dan kedua orang yang menjadi pasangan itu mesti berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan itu, serta membangun kerangka hubungan yang dianggap “cocok”, juga mesti senantiasa siap menghadapi dunia yang selalu berubah. Berbahagialah sebuah pasangan yang memiliki komitmen terhadap tujuan awalnya untuk membangun kehidupan perkawinan yang ditaburi oleh kasih sayang dan suka cita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Berbahagialah seorang anak manusia yang telah dapat membuat pasangannya menjadi bahagia. Buatlah pasangan Anda merasa menjadi orang yang paling bahagia karena Anda, karena kebahagiaan itu letaknya pada rasa maka caranya adalah bagaimana<span> </span>pasangan Anda merasakan kebahagiaan sebagaimana yang Anda rasakan. Daya tarik fisik dan seksual yang muncul diawal perjumpaan, mungkin merupakan emosi pertama yang mempertemukan dua orang manusia, sehingga keduanya memiliki rasa suka satu sama lain. Kualitas dan gaya hidup yang ditawarkan masing-masing, mungkin sesuatu yang memenuhi harapan yang diidam-idamkan masing-masing dan memenuhi kebutuhan emosi sesaat yang mengantar dua orang manusia memilih jalan untuk hidup bersama. Keadaan ini menghasilkan suatu gambaran ideal mengenai pasangan hidup yang dicari dan melupakan bagaimana membangun kerangka ideal hubungan suami-istri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Seringkali orang tidak menyadari bahwa setiap manusia memiliki harapan dan perasaan yang berbeda, khususnya dalam persolan yang lebih spesifik. Seringkali tidak menyadari terdapat perasaan-perasaan yang saling bertentangan untuk hal-hal tertentu.. Seorang wanita bisa jadi akan beranggapan, “ia merupakan bahu yang hebat untuk disandari” ketika dalam hatinya kecilnya ada perasaan yang tersembunyi, bahwa “tak seorang pun pria dapat memerintah ia kesana-kemari atau melarangnya untuk melakukan itu dan ini.” Begitu juga seorang pria yang dalam hati kecilnya beranggapan bahwa “seorang wanita tempatnya di rumah untuk memperhatikan anak-anaknya dan tidak boleh ke sana ke mari bersama orang lain yang tidak pasti tujuannya yang paling dalamnya.” Paradoks ini menunjukkan adanya kesulitan dalam hubungan suami-istri dikemudian hari, khususnya jika salah satu dari pasangan itu merasa sulit menyesuaikan diri dan bertindak tidak fleksibel, apalagi jika di antara keduanya saling mempertahankan konsep ideal yang diidam-idamkan masing-masing. Hal ini diperparah oleh tidak adanya komunikasi untuk mendiskusikan harapan masing-masing, tidak mau menyatakan dalam kata-kata agar pasangannya dapat memahami konsep ideal yang dimiliki oleh masing-masing. Tiba-tiba semuanya menjadi kacau, semuanya menjadi ruwet, setelah itu terjadi prasangka yang tidak tepat dan akhirnya cerita centa dihinggapi awan kelabu yang setiap saat bisa menghancurkan harapan kebahagiaan yang dicita-citakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Oleh sebab itu, para konselor keluarga, sejak lama telah menjelaskan pentingnya komunikasi untuk kesehatan dan kelanggengan hubungan suami-istri, serta untuk memuaskan kebutuhan dan harapan masing-masing dari pasangan suami-isteri. Berdasarkan hasil penelitian yang telah mereka lakukan, komunikasi selain sebagai landasan utama dalam menjalin hubungan perkawinan, juga menjadi penyebab kegagalan sebuah perkawinan, karena nyatanya tidak sedikit kegagalan hubungan perkawinan disebabkan oleh adanya hambatan dalam berkomunikasi sejak hubungan itu dimulai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dampak kegagalan dalam berkomunikasi yang dilakukan oleh pasangan suami-istri akan berakibat pada renggangnya hubungan antara suami-istri tersebut. Akhirnya memunculkan persepsi yang tidak tepat mengenai pasangannya masing-masing dan lupa bahwa persepsi setiap orang pada dasarnya bersifat subjektif. Akibatnya, setiap orang merasa benar sendiri dan menempatkan atau memposisikan pasangannya (orang lain) <span> </span>sebagai pihak yang salah. Kita seringkali lupa bahwa persepsi kita selalu tidak lengkap dan subjektif, bahwa persepsi kita selalu disertai oleh filter dan makna yang dibuat oleh kita sendiri, sesuai dengan kepentingan, perasaan dan pemahaman serta pengalaman yang kita miliki. Kita lupa bahawa persepsi pada dasarnya merupakan persoalan bagaimanakah kita memahami dan merasakan dunia dan apa yang terjadi didalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Persepsi seorang suami atau istri, merupakan suatu proses seleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan secara aktif mengenai pasangannya dengan berbagai hal yang terkait dengannya. Dengan begitu, seorang suami atau istri ketika mempersepsi pasangannya akan memusatkan hanya pada hal-hal tertentu saja, dan melupakan hal-hal lainnya. Kemudian hasil seleksinya itu akan diinterpretasikan dan dimaknai berdasarkan <span> </span>kepentingan, perasaan dan pemahaman serta pengalaman yang terbatas, tentu sebatas yang dimilikinya. Selain itu, dalam proses memaknainya tentu akan dipengaruhi oleh adanya kecenderungan untuk mengambil yang lebih menguntungkan bagi pribadinya. Motif atau harapan ini pada akhirnya membuat setiap pasangan, tidak objektif lagi dalam mempersepsi (memahami dan menilai) pasangannya masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dengan begitu, setiap pasangan tidak lagi berusaha untuk memahami bagaimana pemahaman pasangannya, tidak lagi berusaha merasakan apa yang dirasakan oleh pasangannya dan yang terjadi -ketika bertindak- seolah-olah bahwa kitalah orang yang paling tahu tentang pasangan kita, kita seolah-olah orang yang paling tahu tentang apa yang sedang dipikirkannya. Akibatnya, bukan menyelesaikan persoalan, malah menimbulkan dan memperoleh masalah baru. Oleh sebab itu, perilaku yang paling baik dalam berkomunikasi dengan pasangannya adalah dengan cara menyadari betul bahwa persepsinya adalah sesuatu yang subjektif dan tidak menganggap bahwa persepsinya merupakan sesuatu yang paling benar dan sesuatu yang paling tepat. Karena persespsi setiap orang (termasuk didalamnya pasangan suami-isteri) adalah sesuatu yang parsial dan subjektif, karena setiap orang dalam memahami sesuatu lebih banyak berdasarkan perspektif personal (dirinya) yang dipengaruhi banyak faktor yang cenderung didasarkan pada kepentingannya masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Berdasarkan hal itu, maka setiap pasangan dalam sebuah perkawinan semestinya berusaha menyamakan persepsi yang dimiliki masing-masing. Kemampuan dalam menyamakan persepsi ini merupakan keterampilan komunikasi yang penting dalam hubungan suami-istri, karena hal ini akan membantu setiap pasangan untuk saling memahami (baik pikiran atau perasaan) satu sama lainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dengan demikian, salah satu faktor kuat yang menyebabkan langgeng atau gagalnya hubungan perkawinan adalah terletak pada komunikasi yang dilakukan oleh pasangan yang menjalin ikatan perkawinan itu. Jika di antara pasangan suami-istri masih belum memahami satu sama lain yang terkait dengan hubungannya terdapat langkah yang dapat dilakukan. <em>Pertama,</em> menyesuaikan persepsi, kita harus menyebutkan apa yang telah kita perhatikan mengenai berbagai hal terkait dengan pasangan kita. <em>Kedua, </em>menyesuaikan apakah pasangan kita memahami dan merasakan sesuatu yang sama dengan apa yang kita pahami dan kita rasakan. <em>Ketiga, </em>kita harus menanyakan pada pasangan kita untuk megklarifikasikan bagaimana dia memahami dan merasakan perilakunya dengan alasannya. Jika terdapat pemahaman dan perasaan yang berbeda dengan persepsi kita, mintalah untuk menjelaskan perilakunya berdasarkan persepsi yang kita miliki. Semoga menjadi pasangan suami-istri yang menjadi dan memiliki cerita cinta bahagia selamanya. </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abudzacky.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abudzacky.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abudzacky.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abudzacky.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abudzacky.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abudzacky.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abudzacky.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abudzacky.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abudzacky.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abudzacky.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=6&subd=abudzacky&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/08/jalan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90342627b3bf9a52797d0d36676db1f2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abudzacky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/07/hello-world/</link>
		<comments>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/07/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 15:52:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abudzacky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=1&subd=abudzacky&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abudzacky.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abudzacky.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abudzacky.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abudzacky.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abudzacky.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abudzacky.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abudzacky.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abudzacky.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abudzacky.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abudzacky.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abudzacky.wordpress.com&blog=5099871&post=1&subd=abudzacky&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abudzacky.wordpress.com/2008/10/07/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/90342627b3bf9a52797d0d36676db1f2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abudzacky</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>