JALAN CINTA SEPASANG MANUSIA
Titik mula pada saat dua orang –pria dan wanita- memutuskan bersama-sama untuk menjadi pasangan suami-istri, karena keduanya merasa “cocok” untuk hidup bersama. Inilah awal semua cerita cinta, dongeng indah sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara, agar cerita cinta berakhir dengan bertaburkan rasa suka dan dapat hidup bahagia selama-lamanya. Akan tetapi wahai anak manusia, cerita cinta dengan harapan bahagia bukanlah sesuatu yang tidak bervariasi, ia akan berpluktuasi dalam alur ceritanya.
Sejak semula –dalam kenyataannya- suatu perkawinan akan dihadapkan pada tantangan dan tekanan, dan kedua orang yang menjadi pasangan itu mesti berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan itu, serta membangun kerangka hubungan yang dianggap “cocok”, juga mesti senantiasa siap menghadapi dunia yang selalu berubah. Berbahagialah sebuah pasangan yang memiliki komitmen terhadap tujuan awalnya untuk membangun kehidupan perkawinan yang ditaburi oleh kasih sayang dan suka cita.
Berbahagialah seorang anak manusia yang telah dapat membuat pasangannya menjadi bahagia. Buatlah pasangan Anda merasa menjadi orang yang paling bahagia karena Anda, karena kebahagiaan itu letaknya pada rasa maka caranya adalah bagaimana pasangan Anda merasakan kebahagiaan sebagaimana yang Anda rasakan. Daya tarik fisik dan seksual yang muncul diawal perjumpaan, mungkin merupakan emosi pertama yang mempertemukan dua orang manusia, sehingga keduanya memiliki rasa suka satu sama lain. Kualitas dan gaya hidup yang ditawarkan masing-masing, mungkin sesuatu yang memenuhi harapan yang diidam-idamkan masing-masing dan memenuhi kebutuhan emosi sesaat yang mengantar dua orang manusia memilih jalan untuk hidup bersama. Keadaan ini menghasilkan suatu gambaran ideal mengenai pasangan hidup yang dicari dan melupakan bagaimana membangun kerangka ideal hubungan suami-istri.
Seringkali orang tidak menyadari bahwa setiap manusia memiliki harapan dan perasaan yang berbeda, khususnya dalam persolan yang lebih spesifik. Seringkali tidak menyadari terdapat perasaan-perasaan yang saling bertentangan untuk hal-hal tertentu.. Seorang wanita bisa jadi akan beranggapan, “ia merupakan bahu yang hebat untuk disandari” ketika dalam hatinya kecilnya ada perasaan yang tersembunyi, bahwa “tak seorang pun pria dapat memerintah ia kesana-kemari atau melarangnya untuk melakukan itu dan ini.” Begitu juga seorang pria yang dalam hati kecilnya beranggapan bahwa “seorang wanita tempatnya di rumah untuk memperhatikan anak-anaknya dan tidak boleh ke sana ke mari bersama orang lain yang tidak pasti tujuannya yang paling dalamnya.” Paradoks ini menunjukkan adanya kesulitan dalam hubungan suami-istri dikemudian hari, khususnya jika salah satu dari pasangan itu merasa sulit menyesuaikan diri dan bertindak tidak fleksibel, apalagi jika di antara keduanya saling mempertahankan konsep ideal yang diidam-idamkan masing-masing. Hal ini diperparah oleh tidak adanya komunikasi untuk mendiskusikan harapan masing-masing, tidak mau menyatakan dalam kata-kata agar pasangannya dapat memahami konsep ideal yang dimiliki oleh masing-masing. Tiba-tiba semuanya menjadi kacau, semuanya menjadi ruwet, setelah itu terjadi prasangka yang tidak tepat dan akhirnya cerita centa dihinggapi awan kelabu yang setiap saat bisa menghancurkan harapan kebahagiaan yang dicita-citakan.
Oleh sebab itu, para konselor keluarga, sejak lama telah menjelaskan pentingnya komunikasi untuk kesehatan dan kelanggengan hubungan suami-istri, serta untuk memuaskan kebutuhan dan harapan masing-masing dari pasangan suami-isteri. Berdasarkan hasil penelitian yang telah mereka lakukan, komunikasi selain sebagai landasan utama dalam menjalin hubungan perkawinan, juga menjadi penyebab kegagalan sebuah perkawinan, karena nyatanya tidak sedikit kegagalan hubungan perkawinan disebabkan oleh adanya hambatan dalam berkomunikasi sejak hubungan itu dimulai.
Dampak kegagalan dalam berkomunikasi yang dilakukan oleh pasangan suami-istri akan berakibat pada renggangnya hubungan antara suami-istri tersebut. Akhirnya memunculkan persepsi yang tidak tepat mengenai pasangannya masing-masing dan lupa bahwa persepsi setiap orang pada dasarnya bersifat subjektif. Akibatnya, setiap orang merasa benar sendiri dan menempatkan atau memposisikan pasangannya (orang lain) sebagai pihak yang salah. Kita seringkali lupa bahwa persepsi kita selalu tidak lengkap dan subjektif, bahwa persepsi kita selalu disertai oleh filter dan makna yang dibuat oleh kita sendiri, sesuai dengan kepentingan, perasaan dan pemahaman serta pengalaman yang kita miliki. Kita lupa bahawa persepsi pada dasarnya merupakan persoalan bagaimanakah kita memahami dan merasakan dunia dan apa yang terjadi didalamnya.
Persepsi seorang suami atau istri, merupakan suatu proses seleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan secara aktif mengenai pasangannya dengan berbagai hal yang terkait dengannya. Dengan begitu, seorang suami atau istri ketika mempersepsi pasangannya akan memusatkan hanya pada hal-hal tertentu saja, dan melupakan hal-hal lainnya. Kemudian hasil seleksinya itu akan diinterpretasikan dan dimaknai berdasarkan kepentingan, perasaan dan pemahaman serta pengalaman yang terbatas, tentu sebatas yang dimilikinya. Selain itu, dalam proses memaknainya tentu akan dipengaruhi oleh adanya kecenderungan untuk mengambil yang lebih menguntungkan bagi pribadinya. Motif atau harapan ini pada akhirnya membuat setiap pasangan, tidak objektif lagi dalam mempersepsi (memahami dan menilai) pasangannya masing-masing.
Dengan begitu, setiap pasangan tidak lagi berusaha untuk memahami bagaimana pemahaman pasangannya, tidak lagi berusaha merasakan apa yang dirasakan oleh pasangannya dan yang terjadi -ketika bertindak- seolah-olah bahwa kitalah orang yang paling tahu tentang pasangan kita, kita seolah-olah orang yang paling tahu tentang apa yang sedang dipikirkannya. Akibatnya, bukan menyelesaikan persoalan, malah menimbulkan dan memperoleh masalah baru. Oleh sebab itu, perilaku yang paling baik dalam berkomunikasi dengan pasangannya adalah dengan cara menyadari betul bahwa persepsinya adalah sesuatu yang subjektif dan tidak menganggap bahwa persepsinya merupakan sesuatu yang paling benar dan sesuatu yang paling tepat. Karena persespsi setiap orang (termasuk didalamnya pasangan suami-isteri) adalah sesuatu yang parsial dan subjektif, karena setiap orang dalam memahami sesuatu lebih banyak berdasarkan perspektif personal (dirinya) yang dipengaruhi banyak faktor yang cenderung didasarkan pada kepentingannya masing-masing.
Berdasarkan hal itu, maka setiap pasangan dalam sebuah perkawinan semestinya berusaha menyamakan persepsi yang dimiliki masing-masing. Kemampuan dalam menyamakan persepsi ini merupakan keterampilan komunikasi yang penting dalam hubungan suami-istri, karena hal ini akan membantu setiap pasangan untuk saling memahami (baik pikiran atau perasaan) satu sama lainya.
Dengan demikian, salah satu faktor kuat yang menyebabkan langgeng atau gagalnya hubungan perkawinan adalah terletak pada komunikasi yang dilakukan oleh pasangan yang menjalin ikatan perkawinan itu. Jika di antara pasangan suami-istri masih belum memahami satu sama lain yang terkait dengan hubungannya terdapat langkah yang dapat dilakukan. Pertama, menyesuaikan persepsi, kita harus menyebutkan apa yang telah kita perhatikan mengenai berbagai hal terkait dengan pasangan kita. Kedua, menyesuaikan apakah pasangan kita memahami dan merasakan sesuatu yang sama dengan apa yang kita pahami dan kita rasakan. Ketiga, kita harus menanyakan pada pasangan kita untuk megklarifikasikan bagaimana dia memahami dan merasakan perilakunya dengan alasannya. Jika terdapat pemahaman dan perasaan yang berbeda dengan persepsi kita, mintalah untuk menjelaskan perilakunya berdasarkan persepsi yang kita miliki. Semoga menjadi pasangan suami-istri yang menjadi dan memiliki cerita cinta bahagia selamanya.
Filed under: ARTIKEL