Berani Jujur Pada Diri Sendiri

Pernahkah Anda bertanya pada teman, saudara, guru atau siapa saja yang Anda pandang bahwa dia tahu tentang berbagai kelebihan yang Anda miliki ? Bagaimana rasanya ketika orang yang Anda tanya itu memberikan gambaran atau penjelasan tentang berbagai kelebihan yang Anda miliki itu ? Mungkin Anda merasa senang, karena seolah-oleh bahwa dia sedang memberikan sanjungan pada Anda. Tidak apa-apa, jika Anda merasa senang karenanya, rasa senang Anda itu cukup manusiawi. Sebab siapa pun akan sama seperti Anda, ketika dia mendapat informasi mengenai berbagai kelebihan yang dimiliki oleh dirinya maka dia akan merasa senang.

Persoalannya, bagaimana caranya agar menjadi berbeda dengan kebanyakan orang di sekitar Anda. Cukupkah dengan merasa senang saja? Merasa senang ketika orang lain menyampaikan berbagai kelebihan itu adalah sesuatu yang manusia itu, tetapi rasa senang itu tidak bisa dijadikan sebagai modal untuk meraih sukses yang diidam-idamkan, tidak bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan diri, dan tidak bisa diandalkan untuk bersaing dengan orang lain. Oleh sebab itu, ketika Anda sudah mendapatkan informasi mengenai berbagai kelebihan yang Anda miliki, pekerjaan yang kemudian penting lakukan adalah membuat agenda pribadi untuk mengembangkan berbagai potensi atau kelebihan yang Anda miliki itu.

Kemudian pernahkah Anda bertanya pada orang lain tentang berbagai kelemahan yang ada pada diri Anda? Mungkin untuk melakukan hal ini akan terasa sulit, oleh sebab itu tidak banyak orang yang sanggup melakukannya. Tentu banyak alasan yang menyebabkan orang tidak melakukannya. Menurut Anda, kira-kira apa yang menyebabkan seseorang tidak berani bertanya kepada orang lain tentang berbagai kelemahan atau kekurangan yang terdapat pada dirinya?

Karena malukah ? Sehingga dia tidak pernah bertanya pada orang lain. Karena takutkah ? Sehingga dia tidak berani bertanya pada orang lain. Keduanya sangat mungkin, sehingga seseorang tidak berani dan tidak pernah bertanya pada orang lain tentang berbagai kelemahan atau kekurangan yang ada pada dirinya. Akan tetapi alasan yang lebih dalam, dibandingkan dua alasan di atas adalah bahwa dia “tidak berani jujur pada diri sendiri”, sehingga dia menjadi takut.

Takut orang lain tahu tentang berbagai kelemahan yang ada pada dirinya, takut orang mentertawakan tentang berbagai kekurangan yang ada pada dirinya, takut orang akan merendahkan harga dirinya karena mereka mengetahui berbagai kelemahan yang ada pada dirinya, takut orang lain tidak lagi menghargai dirinya, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Rasa takut seperti itu pada dasarnya disebabkan oleh tidak adanya keberanian untuk jujur pada diri sendiri, sehingga dia tidak siap untuk mendengarkan, tidak siap untuk menerima berbagai informasi mengenai kelemahan atau kekurangan dirinya.

Kejujuran pada diri sendiri sangat erat kaitannya dengan penerimaan diri, maka ketika seseorang tidak berani jujur pada diri sendiri sebenarnya dia tidak siap dan tidak berani menerima keadaan dirinya. Hal demikian dipengaruhi oleh nilai-nilai, keyakinan dan cara berpikir seseorang, karena nilai-nilai, keyakinan dan cara berpikir akan menciptakan apa yang kita rasakan, kita katakan dan kita lakukan, juga akan menentukan hasil yang akan diperoleh, sebab seseorang akan menjadi apa yang dirasakan, diyakini dan dipikirkanya. Kebanyakan orang atau mungkin setiap orang, akan menjalani kehidupannya sesuai dengan model mental dirinya, yaitu sesuai dengan nilai-nilai, keyakinan dan pikirannya dan mengabaikan sesuatu yang berbeda atau berlawanan dengan model mental dirinya. Sayangnya banyak nilai-nilai, perasaan, keyakinan dan pikiran itu terkubur begitu dalam di alam bawah sadar kita, bahkan kita sendiri tidak menyadari bahwa kita memegangnya erat-erat.

Nilai-nilai, keyakinan, dan pikiran ini penting, karena semuanya akan menjadikan siapa diri Anda sebenarnya, menjadikan seperti apa model mental Anda dan akan mendefiniskan siapakah diri Anda sebenarnya. Tiga hal itu akan menjadi cermin yang Anda gunakan untuk memandang dunia, warna apa yang akan Anda lihat, suara apa yang akan Anda dengar, dan akan mengkerangka bagaimana Anda memikirkannya serta kesimpulan seperti apa yang akan Anda buat.

Persolaannya adalah “Telah jujurkah kita pada diri sendiri ? Untuk jujur pada diri sendiri, sangat dibutuhkan keberanian yang besar, melebihi besarnya keberanian untuk menghadapi tantangan lain, selain untuk jujur itu sendiri. Oleh sebab itu, Anda harus berani menjawab ”telah jujurkah saya pada diri sendiri ?”. Kemudian jika memang terdapat beberapa kelemahan dan kekuarangan pada diri, mampukah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi berbagai persoalan, menyongsong senja menanti pagi yang silih berganti ?

Kejujuran pada diri sendiri, akan menjadi energi untuk memperbaiki berbagai kekurangan itu, juga menjadi kekuatan untuk menyatakan bahwa “dalih”, hanyalah alasan untuk menutupi kelemahan atau membungkus kekurangseriusan dalam meraih sesuatu yang dicita-citakan atau meraih kesuksesan yang diidam-idamkan. Kejujuran pada diri sendiri pada perjalanannya akan menjadi modal terbangunnya “pemahaman diri” dan “perasaan diri” secara positif. Jadi, kejujuran pada diri sendiri merupakan modal yang sangat diperlukan seseorang dalam meraih kesuksesan, karena dengan itu seseorang akan memiliki “pemahaman diri” dan “perasaan diri” secara positif.

Pemahaman diri dan perasaan diri merupakan dua pilar yang membangun konsep diri seseorang yang ditegakkan oleh komponen kognitif dan komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra-diri (self image) dan komponen afektif disebut harga-diri (self esteem). Citra diri adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri: berkompeten atau tak berdaya, pemalu atau ramah, lembut atau kasar, pembelajar cepat atau lambat, dapat diandalkan atau serampangan. Sedangkan harga diri merupakan refleksi perasaan diri, penghormatan diri dan nilai diri, nilai yang kita tempatkan pada diri kita sendiri sebagai orang dan harapan yang kita miliki dari dan untuk diri kita sendiri.

Orang-orang dengan harga diri yang tinggi biasanya merasa nyaman dan percaya diri. Akan tetapi berkaitan dengan harga diri atau citra-diri (self image) terdapat sesuatu yang mesti disadari, karena jika seseorang tidak kontrol maka dia akan memasang harga atau citra dirinya terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan keadaan dirinya. Dengan begitu ia akan menjadi orang yang over confident (terlalu percaya diri) hingga dia akan menjadi sombong (takabur).

Sedangkan orang-orang yang harga dirinya rendah akan merasa tidak bernilai dan tidak nyaman, mereka kurang percaya diri untuk mengatakan apa yang ada dalam benaknya. Orang yang memasang harga-diri (self esteem) terlalu rendah juga akan bahaya, sebab orang yang demikian akan menjadi serba ragu dan minder. Dengan begitu keberanian dan kreativitasnya akan hilang, karena tertutup olah rasa takut dan rasa malu yang berlebihan. Berdasarkan dua hal di atas, coba Anda nilai posisi Anda sekarang, bagaimana pandangan yang Anda pegang tentang diri Anda, apakah positif, negatif atau biasa-biasa saja ? Pandangan diri Anda pada akhirnya akan memandu segala sesuatu yang Anda pikirkan, Anda rasakan dan Anda katakan juga Anda lakukan. Oleh sebab itu, konsep diri (self image dan self esteem) akan memainkan peran sentral dalam kesuksesan seseorang.

Pertanyaannya, bagaimana menurut Anda mengenai diri Anda sendiri ? Apakah Anda menyukai diri Anda sendiri ? Apakah Anda berpikir sebagai orang yang berharga dan penting ? Apakah Anda percaya bahwa Anda patut mendapatkan yang terbaik ? Seberapa nyamankah Anda dengan diri Anda yang sebenarnya? Jika kini Anda merasa rendah diri, pemalu, kurang percaya diri maka segeralah naikan harga diri Anda, akan tetapi jika Anda terlampau percaya diri, itu juga sebuah pertanda ada sesuatu yang kurang tepat dalam memahami diri.

Untuk itu, terdapat beberapa hal yang Anda dapat lakukan untuk menaikkan harga diri Anda, yaitu dengan cara berikut:

1. Daripada menyalahkan orang lain, terimalah tanggung jawab untuk bergembira, mencapai tujuan, menikmati kehidupan Anda;

2. Daripada memusatkan pada kesalahan Anda, lebih baik melakukan sesuatu agar perasaan dan pikiran Anda lebih positif, sehingga dapat membangun kepercayaan diri Anda dan yang membuat Anda merasa lebih baik, kompeten dan berkecukupan;

3. Daripada terus berhubungan dengan para pecundang, bertemanlah dengan orang-orang yang punya harga diri lebih positif dan yang membuat Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri.

4. Daripada duduk di rumah, ikutilah aktivitas yang Anda senangi;

5. Daripada bersikap kritis kepada diri Anda sendiri dan orang lain, carilah sesuatu yang Anda sukai pada diri Anda sendiri dan pada setiap orang yang Anda kenal dan temui;

6. Daripada mencoba mengubah orang lain, fokuskan untuk menjadi orang yang Anda inginkan;

7. Daripada menjalani hidup di masa depan atau masa lalu, hiduplah di masa sekarang;

8. Daripada mengatakan “saya tidak dapat melakukan ini” atau “saya tidak tahu apapun tentang hal ini”, bacalah, hadiri seminar, belajarlah dari orang lain, lakukan apa pun yang Anda bisa untuk mengembangkan bakat dan keterampilan Anda;

9. Daripada memusatkan pada kegagalan Anda, akui dan rayakan prestasi dan kesuksesan Anda;

10. Daripada terlalu banyak makan dan minum, dan kurang latihan, jagalah diri sendiri, Anda patut mendapatkannya.

11. Daripada mengatakan ”Oh, tidak ada apa-apanya, sungguh”, terimalah pujian orang lain, katakan ”terima kasih” dan nikmati perhargaan itu tanpa rasa malu.

Jadi, konsep diri (citra diri dan harga diri) merupakan faktor yang sangat menentukan perilaku seseorang, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Jelaslah kini, bila seorang mahasiswa (Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, misalnya) merasa dirinya sebagai orang yang mampu menjadi mubaligh atau menjadi seorang penyiaran Islam, maka ia akan akan berusaha menjadikan dirinya sebagai mubaligh atau penyiaran Islam, ia akan berusaha menghadiri kuliah dengan teratur, mempelajari materi perkuliahan dengan rajin dan sungguh-sungguh, sehingga ia akan memperoleh apa yang diharapkannya itu.

Sebaliknya, jika ia merasa rendah diri dan memandang bahwa dirinya tidak akan mampu menjadi seorang mubaligh (penceramah) atau penyiar ”hebat” maka ia akan mengalami kesulitan meraih harapannya untuk menjadi seorang mubaligh atau penyiar. Kemudian ia akan malas masuk kuliah, tidak rajin mempelajari materi kuliah dan tidak aktif dalam mengikuti pelatihan-pelatihan serta kegiatan yang mendukung untuk menjadikan dirinya sebagai mubaligh (penceramah) atau penyiar ”hebat”. Sebab ia hanya akan mengangap bahwa dirinya tidak mungkin bisa menjadi seorang mubaligh atau menjadi atau penyiar Islam yang ”hebat”.

Dengan begitu, konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian Anda tentang diri Anda. Konsep diri meliputi apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan tentang diri Anda. Oleh sebab itu, Anita Taylor et al (1977) mendefinisikan konsep diri sebagai “all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself”. Jadi untuk sukses menjadi seorang mubaligh (penceramah) atau penyiar Islam akan banyak bergantung pada apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan mengenai diri Anda, artinya kesuksesan Anda sangat besar dipengaruhi oleh bagaimana konsep diri Anda, positif atau negatif.

Untuk menilai diri Anda, apakah positif atau negatif dalam kerangkan konsep diri, menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (1976) memiliki tanda-tanda orang yang memiliki konsep diri yang negatif, sebagai berikut:

1. Ia peka pada kritik, orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam;

2. Respnsif sekali terhadap pujian, walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian;

3. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain dan ia merasa tidak diperhatikan, karenanya bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban pershabatan; dan

4. Bersikap pesimis terhadap kompetisi, seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi.

Sebaliknya, orang-orang yang memiliki konsep diri positif secara umum akan ditandai dengan lima hal berikut:

1. Ia yakin akan kemampuannya menagatasi masalah;

2. Ia merasa setara dengan orang lain;

3. Ia menerima pujian tanpa rasa malu;

4. Ia menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat; dan

5. Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

Dalam kenyataannya, memang tidak ada orang yang betul-betul sepenuhnya berkonsep diri negatif atau positif, tetapi untuk meraih kesuksesan sebagaimana diharapkan oleh Anda maka sedapat mungkin Anda memperoleh sebanyak mungkin tanda-tanda konsep diri positif. Bahkan D.E. Hamachek (1976) menyebutkan sebelas karakteristik orang yang mempunyai konsep diri positif:

1. Ia meyakini betul-betul niali-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempetehankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi dia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prisip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.

2. Ia bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.

3. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi pada waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu sekarang.

4. Ia memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.

5. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusiatidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.

6. Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai shabatnya.

7. Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.

8. Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.

9. Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai keputusan yang mendalam pula.

10. Ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan, atau sekedar mengisi waktu.

11. Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang tlah diterima, dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.

Konsep diri positif akan menjadi kekuatan untuk menyusun bangunan self confidence (percaya diri) yang dapat menggerakan pikiran dalam membentuk sebuah keyakinan dan menghapus keragu-raguan, karena dengan kekuatan itu seseorang akan berusaha mencari jalan, sarana serta cara meraih kesuksesan yang dicita-citakannya. Sebaliknya konsep diri negatif akan berdampak pada kekurang percayaan diri, sebab bagi mereka yang memiliki konsep diri negatif akan merasa bahwa dirinya tidak mampu melakukan apa yang orang lain dapat lakukan, ia akan cenderung menghindar dari persoalan, ia takut orang lain akan mengejeknya atau menyalahkannya, sehingga ia akan menjadi serba takut.

Jadi, konsep diri positif yang dimiliki seseorang merupakan kekuatan yang akan menjadikan ia seperti yang dipikirkannya. Sebaliknya keragu-raguan, rendah diri, kesalahan dalam membuat citra-diri (self image) serta kesalahan dalam perasaan diri atau harga diri (self esteem) merupakan kekuatan negatif yang seringkali hadir menghalangi langkah kesuksesan, sebab keraguan pada diri sendiri secara tidak proporsional merupakan buah dari cara merasa dan cara memahami diri yang salah. Kesalahan ini -cara berpikir dan cara merasa- ujung-ujungnya akan menarik ”dalih” yang dapat menyokong dan membangun tidak percaya pada diri sendiri secara berlebihan.

Kesalahan cara berpikir (negatif) akan memandu ”otak Anda yang hebat” memproduksi sesuatu yang tidak berarti, tidak menghasilkan sumbangan dan tidak memberikan apa pun yang bermanfaat. Ia hanya akan mengkubur semua nilai, keyakinan dan pengetahuan serta cita-cita yang Anda miliki. Oleh sebab itu ketahuilah ”sesungguhnya cara berpikir jauh lebih penting dari banyak intelegensi yang Anda miliki”, sebab cara berpikir yang Anda gunakan akan memandu intelegensi (kecerdasan) Anda, baik kecerdasan intelektual, dan kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual.

Dengan demikian yang paling penting adalah ”bukan seberapa banyak intelegensi yang Anda miliki, tetapi bagaimana caranya mengoptimalkan potensi intelegensi yang benar-benar Anda miliki”. Untuk mengoptimalkan potensi intelegensi yang Anda miliki akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara Anda berpikir, karena cara berpikir yang Anda gunakan akan memandu intelegensi yang Anda miliki. Karena itu, setiap pemikiran negatif jika dipupuk dengan berulang-ulang akan berkembang menjadi monster pikiran yang riil yang dapat menghancurkan percaya diri dan melicinkan jalan pada kegagalan, sebab keraguan, ketidakpercayaan, keinginan bawah sadar untuk gagal, perasaan tidak benar-benar ingin berhasil akan berpengaruh terhadap sebagian besar kegagalan Anda. Sebaliknya, kepercayaan atau keyakinan dan cara berpikir positif akan menjadi motor dan kekuatan penggerak yang memicu keberhasilan dan menjadi salah satu faktor determinan meraih kesuksesan. Artinya, dengan keyakinan dan cara berpikir positif serta percaya pada diri sendiri maka segala hal yang baik pasti mulai terjadi.

Apakah yang akan menentukan seberapa besar kesuksesan Anda? Lingkungan tempat Anda dilahirkan? Keberuntungan yang menjadi bagian dari kehidupan? Kesempatan dan kekayaan yang dimiliki? Mungkin semua itu ada kaitannya. Meskipun demikian, yang lebih penting adalah nilai-nilai, keyakinan, dan pikiran Anda sendiri, sebab semua itu yang akan menyusun realitas diri Anda dan penyebab langsung tentang apa yang Anda rasakan, Anda pikirkan, dan Anda katakan serta Anda lakukan, semua itu akan menjadi kekuatan untuk berani jujur pada diri sendiri.

Leave a Reply